Lemburkuring2007

KONTAK

email :kabarkuningan@yahoo.co.id

25 thoughts on “KONTAK

  1. Kalung Mutiara Annisa
    “Anisa…, Anisa sayang nggak sama Ayah?”
    “Tentu dong… Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang Ayah!”
    “Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu…”

    Ini cerita tentang Anisa, gadis kecil ceria berusia lima tahun. Suatu sore, Anisa menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. Ketika menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil putih berkilauan, tergantung dalam kotak berwarna pink yang sangat cantik. Kalung itu nampak begitu indah, sehinggak Anisa sangat ingin memilikinya.

    Tapi, dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli. Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk embelikannya kaos kaki berenda yang cantik.

    Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya, “Ibu, bolehkah Anisa memiliki kalung ini? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi…” Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya Mata Anisa yang memandangnya dengan penuh harap Dan cemas.

    Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun IA tak mau bersikap tidak konsisten. “Oke… Anisa, kamu boleh memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih Mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju?”

    Anisa mengangguk lega, Dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke-raknya. “Terimakasih…, Ibu.” Anisa sangat menyukai Dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik Dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya. Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab, kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, Dan membuat lehernya menjadi hijau…

    Setiap malam sebelum tidur, Ayah Anisa akan membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya: “Anisa…, Anisa sayang nggak sama Ayah?”

    “Tentu dong… Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang Ayah!”

    “Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu…”

    “Yah…, jangan dong Ayah! Ayah boleh ambil “is Ratu” boneka kuda dari nenek! Itu kesayanganku juga”

    “Ya sudahlah sayang… Nggak apa-apa!” Ayah mencium pipi Anisa sebelum keluar dari kamar Anisa.

    Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi: “Anisa…, Anisa sayang nggak sih, sama Ayah?”

    “Ayah, Ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada Ayah?”

    “Kalau begitu, berikan pada Ayah kalung mutiaramu.”

    “Jangan Ayah… Tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini.” Kata Anisa seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain. Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk ke kamarnya, Anisa sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, Anisa rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan. Dari matanya, mengalir bulir-bulir air Mata membasahi pipinya…

    “Ada apa Anisa, kenapa Anisa?”

    Tanpa berucap sepatah pun, Anisa membuka tangannya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya. “Kalau Ayah mau… Ambillah kalung Anisa.”

    Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Anisa. Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih… Sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Anisa.

    “Anisa… Ini untuk Anisa. Sama bukan? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau.”

    Ya…, ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Anisa.

    Sahabat, demikian pula halnya dengan Allah SWT. Terkadang Dia meminta sesuatu dari Kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang Kita seperti atau bahkan lebih naif dari Anisa: menggenggam erat sesuatu yang Kita anggap amat berharga, Dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangan.

  2. Kita Hanya Tahu Sepotong dari Keseluruhan Drama Kehidupan

    Pernah ada seorang tua yang hidup di desa kecil. Meskipun ia miskin, semua orang cemburu kepadanya karena ia memiliki kuda putih cantik. Bahkan raja menginginkan hartanya itu. Kuda seperti itu belum pernah dilihat orang, begitu gagah, anggun dan kuat.

    Orang-orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda jantan itu, tetapi orangtua itu selalu menolak, “Kuda ini bukan kuda bagi saya,” katanya. “Ia adalah seperti seseorang. Bagaimana kita dapat menjual seseorang. Ia adalah sahabat, bukan milik. Bagaimana kita dapat menjual seorang sahabat?” Orangtua itu miskin dan selalu mendapat godaan besar. Tetapi ia tidak mau menjual kuda itu.

    Suatu pagi, ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di kandangnya. Seluruh desa datang menemuinya. “Orangtua bodoh,” mereka mengejek dia. “Sudah kami katakan bahwa seseorang akan mencuri kuda Anda. Kami peringatkan bahwa Anda akan dirampok. Anda begitu miskin. Mana mungkin Anda dapat melindungi binatang yang begitu berharga? Sebaiknya Anda menjualnya. Anda boleh minta harga berapa saja. H arga setinggi apapun akan dibayar juga. Sekarang kuda itu hilang dan Anda dikutuk oleh kemalangan.”

    Orangtua itu menjawab, “Jangan bicara terlalu cepat. Katakan saja bahwa kuda itu tidak berada di kandangnya. Itu saja yang kita tahu, selebihnya adalah penilaian. Apakah saya dikutuk atau tidak, bagaimana Anda dapat ketahui itu? Bagaimana Anda dapat menghakimi?”

    Orang-orang desa itu protes, “Jangan menggambarkan kami sebagai orang bodoh! Mungkin kami bukan ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak diperlukan. Fakta sederhana bahwa kuda Anda hilang adalah kutukan.”

    Orangtua itu berbicara lagi, “Yang saya tahu hanyalah bahwa kandang itu kosong dan kuda itu pergi. Selebihnya saya tidak tahu. Apakah itu kutukan atau berkat, saya tidak dapat katakan. Yang dapat kita lihat hanyalah sepotong saja. Siapa tahu apa yang akan terjadi nanti?”

    Orang-orang desa tertawa. Menurut mereka orang itu gila. Mereka memang selalu menganggap dia orang tolol. Kalau tidak, ia akan menjual kuda itu dan hidup dari uang yang diterimanya. Sebaliknya, ia seorang tukang potong kayu miskin, orangtua yang memotong kayu bakar dan menariknya keluar hutan lalu menjualnya. Uang yang ia terima hanya cukup untuk membeli makanan, tidak lebih. Hidupnya sengsara sekali. Sekarang ia sudah membuktikan bahwa ia betul-betul tolol.

    Sesudah lima belas hari, kuda itu kembali. Ia tidak dicuri, ia lari ke dalam hutan. Ia tidak hanya kembali, ia juga membawa sekitar selusin kuda liar bersamanya. Sekali lagi penduduk desa berkumpul di sekeliling tukang potong kayu itu dan mengatakan, “Orangtua, kamu benar dan kami salah. Yang kami anggap kutukan sebenarnya berkat. Maafkan kami.”

    Jawab orang itu, “Sekali lagi kalian bertindak gegabah. Katakan saja bahwa kuda itu sudah balik. Katakan saja bahwa selusin kuda balik bersama dia, tetapi jangan menilai. Bagaimana kalian tahu bahwa ini adalah berkat? Anda hanya melihat sepotong saja. Kecuali kalau kalian sudah mengetahui seluruh cerita, bagaimana Anda dapat menilai? Kalian hanya membaca satu halaman dari sebuah buku. Dapatkah kalian menilai seluruh buku? Kalian hanya membaca satu kata dari sebuah ungkapan. Apakah kalian dapat mengerti seluruh ungkapan? Hidup ini begitu luas, namun Anda menilai seluruh hidup berdasarkan satu halaman atau satu kata. Yang Anda tahu hanyalah sepotong! Jangan katakan itu adalah berkat. Tidak ada yang tahu. Saya sudah puas dengan apa yang saya tahu. Saya tidak terganggu karena apa yang saya tidak tahu.”

    “Barangkali orangtua itu benar,” mereka berkata satu sama lain. Jadi mereka tidak banyak berkata-kata. Tetapi di dalam hati mereka tahu ia salah. Mereka tahu itu adalah berkat. Dua belas kuda liar pulang bersama satu kuda. Dengan kerja sedikit, binatang itu dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian dijual untuk banyak uang.

    Orangtua itu mempunyai seorang anak laki-laki. Anak muda itu mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu. Setelah beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda dan kedua kakinya patah. Sekali lagi orang desa berkumpul di sekitar orangtua itu dan menilai. “Anda benar,” kata mereka. “Anda sudah buktikan bahwa Anda benar. Selusin kuda itu bukan berkat. Mereka adalah kutukan. Satu-satunya puteramu patah kedua kakinya dan sekarang dalam usia tua Anda tidak punya siapa-siapa untuk membantu Anda. Sekarang Anda lebih miskin lagi.”

    Orangtua itu berkata, “Ya, kalian kesetanan dengan pikiran untuk menilai, menghakimi. Jangan keterlaluan. Katakan saja bahwa anak saya patah kaki. Siapa tahu itu berkat atau kutukan? Tidak ada yang tahu. Kita hanya mempunyai sepotong cerita. Hidup ini datang sepotong-sepotong.”

    Maka dua minggu kemudian negeri itu berperang dengan negeri tetangga. Semua anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara. Hanya anak si orangtua itu yang tidak diminta karena ia terluka. Sekali lagi orang berkumpul sekitar orangtua itu sambil menangis dan berteriak karena anak-anak mereka sudah dipanggil untuk bertempur. Sedikit sekali kemungkinan mereka akan kembali. Musuh sangat kuat dan perang itu akan dimenangkan musuh. Mereka tidak akan melihat anak-anak mereka kembali. “Anda benar, orangtua!” mereka menangis. “Tuhan tahu, Anda benar. Ini buktinya. Kecelakaan anakmu merupakan berkat. Kakinya patah, tetapi paling tidak ia ada bersamamu. Anak-anak kami pergi untuk selama-lamanya.”

    Orangtua itu berujar, “Tidak mungkin untuk berbicara dengan kalian. Kalian selalu menarik kesimpulan. Tidak ada yang tahu. Katakan hanya ini, anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anak saya tidak. Tidak ada yang tahu apakah itu berkat atau kutukan. Tidak ada yang cukup bijaksana untuk mengetahui. Hanya Allah yang tahu.”

    ***

    Orangtua itu benar. Kita hanya tahu sepotong dari seluruh kejadian. Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian hidup ini hanya merupakan satu halaman dari buku besar. Kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan. Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita.

  3. patepangken abdi uarang susukan ayena abdi d batam kangen ama anak2 lulusan 98/99 cipicung kange berat nih kalau ada aku hadi anak susukan

  4. Dupi kawit ti Maleber ayina di Bekasi

  5. Punten Kang Koko, nepangkeun dupi Asli ti Pasapen sabara, manawi terang Pasapen Tilu….

  6. punten ah ngiringan….
    ngan ngiring tumaros heulaaa, dupi tos aya nu ngangge nami KoKo, nteu…?
    bilih priogi bubur-beureum-bubur-bodas kedah gentos nami kapayunna…
    abdi oge ti Kuningan… asli ti Pasapen…
    ngiringan aaah…

  7. NGIRINGAN ahhh….tepangkeun abdi cep Onoy asli putra daerah kuningan…kawit ti Wano_Japara_Jalaksan…asa sarepi geuning nya…

    • Mangga calik Kang Onoy, wilujeng sumping. Aya sabaraha calon..? Saha wae..? Dupi akang nyalon…? Heee…hee

  8. kang zoen ………..aya tamu di payun namina neng lely amalia kawitna ti Bayuning, sok atuh bageakeun …….

  9. salam kenal nami abdi lely …kawit abdi ti bayuning kuningan jawabarat

  10. salam kenal namaku tomo asli kediri jawa timur

  11. Saya asal Lawang-Malang juga tunarungu jenius berwiraswasta adalah tukang potong rambut apalgi pemiliki Lesehan Wiratno. Tapi saya ingin cari cewek cantik atau lumayan harus sifatnya baik hati. Tolong sms saya ya 08813343209 biar nanti tak kenalan anda ok. Terima kasih

  12. hallo, saya yang bernama wiratno asal malang_jawa timur ingin punya teman baik hati atau cewek tunarungu tapi berwiraswasta adalah punya lesehan wiratno dan unit potong rambut. Saya alumni SLB negeri Pembina Tingkat Nasional Lawang-Malang.

  13. neng, rika yang berada di perum ciharendong kencana. Kapan mau maen ke Legok Herang lagi. orang-orang di sana sangat merindukan kamu.
    terutama teman kamu yang bernama ucup.
    padahal dia adalah teman kecil kamu. tapi setelah kau dewasa kau lupa padanya.

  14. salam manis buat neng gita permatasari. di mana pun neng berada . aku sangat merindukan kamu. padahal pas sekolah dulu engkau begitu baik kepadaku. tapi sekarang setelah semua sirna kau tega tinggalkan aku.

  15. wilujeng thn baru,kangge kasadayana ,mudah2an dina thn nu enggal ieu urang sadayana tambih sukses dina sagala rupi bidang usaha,amiiiiiiiiiiiiin………!

  16. no.Telp.Tirta mah teu gaduh, alamat na mah ti Luragung ka kulon sakedik, kalereun jalan.

  17. Minta alamat dan no tlp kolam renang waterboom tirta agung mas luragung kuningan.thx.

  18. Ka baraya sadaya boh di Kuningan boh dipanyabaan :
    Wilujeng boboran siam, minal’aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin.

  19. ass. salam kenal bwt mita. sy billy asal dari bandung jg p’nyandang TR prn sekolah SLB dari cicendo sy perhatin cerita km yang amat terkesan dan sedih apa yang dialami di lingkungan terutama keluarga. perjuanglah melalui kemauan dlm aktivitas hingga cita2mu akan tercapai. sekali lagi semangatlah.. hp.081802083705 (sms) thank’s. wss.

  20. haloo saya mau salam kenal mitra boleh gak ?? Mitra gimana saya name HIMAWAN S.Amd .Dari Kota Bandung Jawa Barat Saya tunarungu Seperti Mitra. Saya liat Baca tulis Mitra Bagus ya. Saya mau minta Hp mitra No 3G Atau MMS FOTO Boleh gak??? Mirta Gimana? He he he…………. Mitra Jangan Lupa HP SMS EMil Ok .Hehehehe… Teriman Kasik…

  21. Salam kenal buat mita, saya dadan dari bandung. Saya juga penyandang tunarungu seperti mita. Saya salut pada semangat mita untuk mencapai kemajuan. Semoga sukses, doa saya untuk mita.
    Oh ya, no hp saya 08993901643, saya ingin smsan dengan mita kalau mita tidak berkeberatan.
    Terima kasih

  22. Maju terus & tingkatkan…

  23. sok atuh kang dikawitan..satuju pisan abdi mah insya Allah kang upami aya nu tiasa di bantos pasti ku simkuring dibantos komo ieu keur sosial iraha deih atuh urang teh paduli ka lemah cai khususna ka tempat urang ngawitan nimba elmu formal nya di eSDe tea pasti..magga..

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s