Lemburkuring2007

Bupati Ultimatum Peternakan Babi

8 Pairan

Sumber ; pikiran-rakyat.com
Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda akhirnya mengultimatum seluruh peternak babi yang ada di Kec. Cigugur, Kab. Kuningan, agar segera menangani limbah dan menata kandang sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan. Bupati memberikan waktu kepada para peternak untuk menangani limbah itu selama tiga puluh hari atau paling lambat hingga 15 Agustus 2009.

“Apabila lebih dari tiga puluh hari tidak melaksanakan kesepakatan yang dimaksud, maka seluruh ternak tersebut harus diganti dengan usaha ternak lain,” ungkap Bupati Kuningan yang disampaikan Sekda Kuningan H. Djamaludin Noer selaku Ketua Tim Pengkajian, pada acara Sosialisasi Pencegahan Virus Flu Babi, di Aula Kelurahan Cigugur, Rabu (15/7).

Meski ternak babi di Kuningan hingga kini dinyatakan negatif dari virus flu babi, menurut Bupati, namun jika suatu saat terindikasi virus H1N1, pemiliknya harus merelakan babi tersebut untuk dimusnahkan.

Penegasan Bupati itu muncul, setelah sebelumnya mendapat masukan dari jajaran Dinas Kesehatan Kab. Kuningan yang menyesalkan dan menyatakan rasa prihatin usaha peternakan babi di wilayah Cigugur, tidak memenuhi syarat berdasarkan standar kesehatan lingkungan.

Dengan demikian, hal itu dikhawatirkan akan menimbulkan berbagai penyakit bagi warga sekitar. Dinas Kesehatan pun telah beberapa kali meminta kepada para peternak babi, untuk memperhatikan kebersihan kandang dan jangan sampai mencemari lingkungan, tetapi tidak pernah digubris.

Selama ini, kotoran babi hanya digundukkan tidak keruan di atas tanah dan sesekali diambil orang untuk pupuk kandang.

Begitu pula ketika para peternak memandikan babi dan membuang sisa makanan serta kotorannya, juga hanya dilakukan dengan cara menyemprotkan air ke lantai kandang dan air mengalir begitu saja, yang kemudian menyerap ke dalam tanah. Padahal Cigugur yang berada di kaki Gunung Ciremai itu merupakan daerah resapan air.

Pada sosialisasi Rabu (15/7) kemarin, diikuti dua puluh kelompok yang mewakili dua ratus peternak babi yang tersebar di Kelurahan Cigugur, Desa Cisantana, dan Desa Cileuleuy. Hadir juga Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Peternakan H. Iman Sungkawa, Kepala Dinas Kesehatan H. Kadaryanto, Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Bunbun Budhiyasa, serta anggota muspika setempat.

Tidak berizin

Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perikanan H. Iman Sungkawa mengakui, peternakan babi di Kab. Kuningan bukan merupakan binaan. Berbeda misalnya dengan peternakan sapi, kambing, dan peternakan lainnya. Selain itu, ia juga mengaku tidak pernah mengeluarkan izin bagi peternakan babi.

Kasi Kesehatan Lingkungan Beni Sudrajat memaparkan, berdasarkan hasil penelitiannya sampai akhir Mei 2009, peternakan babi di wilayah Kec. Cigugur terkonsentrasi di tiga lokasi, yakni Kel. Cigugur, Kel. Cileuleuy, dan Cisantana dengan populasi keseluruhan tercatat 4.343 ekor.

Di Blok Mayasih Cigugur terdapat 82 kandang dengan rata-rata 20 – 50 ekor babi per kandang, bahkan di Blok Pasir Cisantana ada yang dihuni tujuh ratus ekor babi dalam satu kandang dan satu kandang dikelola seorang petugas.

Di Mayasih dan Cigugur, jarak kandang babi dengan permukiman penduduk sekitar 200 meter bahkan dekat dengan salah satu madrasah. Sedangkan di Cisantana jarak kandang dengan permukiman penduduk hanya 40 meter.

Pembuangan air limbah dinilai tidak sesuai dengan aturan, bahkan air limbah itu bisa dengan mudah mendatangkan lalat rata-rata dua puluh ekor/menit. Dengan kondisi itu, penanganan limbah tidak memenuhi syarat standar kesehatan lingkungan. Begitu pula dengan para peternak yang tidak menggunakan alat perlindungan kerja, sehingga sangat rentan terserang penyakit. (A-164)***

8 thoughts on “Bupati Ultimatum Peternakan Babi

  1. bade nawarkeun hampas tahu yeuh,pami nepi kaditu skmh nya sakarungna?eta perkarung eusi 60-75 kg.

  2. Bp Bupati cukup bijaksana, tidak melarang ternak babi, beliau cuma meminta para peternak supaya menangani dan menata limbah sesuai dengan ketentuan. Tentunya lingkungan yg bersih akan memberikan kenyamanan buat lingkungan sekitar….terlepas dari apa keyakinannya. Mudah2an isu flu babi tidak menggangu kerukunan hidup beragama

  3. terimakasih informasi nya, sangat berguna dan bermanfaaat buat saya….
    makasih dan salam kenal

  4. Tos ah ulah kapapanjangan nyarioskeun sual agama, bilih janten matak. Urang diskusi nu basajan bae. Di Cigugur Kuningan hirup rupa-rupa agama, tapi masarakatna hirup rukun sauyunan sareng silih ajenan. Hidup urang Cigugur.

    • Satuju.
      Teu ngan di Cigugur bae, tapi hampir di Jawa Barat/Pasundan umumna. Toleransi jeung silih ajenan mangrupakeun ciri hirup jeung huripna Jalma Sunda. Soal agama jeung soal ajen inajen lainna geus ngulit-ngadaging pikeun Manusa Sunda. Contona, lamun pasukan TNI anu asalna ti Jawa Barat dijadikeun Pasukan Penjaga Perdamaian di luar negeri, hasil pendekatan leuwih hade. Lain maksud emang ngobrolkeun agama, ngan ari tindakan jeung kabijakan teh kudu anu asup akal. Lamun malulu ngan tina pandangan agama tertentu bae, kurang merenah.
      Salam ti emang.

  5. memang sih segala sesuatu yang menimpa manusia sebenarnya bersumber dari manusia itu sendiri,kaya flu babi ini,karena menurut agama islam babi itu haram,tapi masih saja di ternakan,jadi timbulah masalah seperti yang sekarang ini terjadi,dan di indonesia kini sudah memakan morban meninggal!!!
    sukses sob!!!

    • Cek saha flu H1N1 tina babi ? Memangna nu maot lantaran katularan tina babi ? Ari flu burung (H1N5) memang bener tina hayam atawa sabangsa hayam (unggas) apan dina Islam oge dimeunangkeun miara hayam jeung laianna. Ulah sok mamawa agama lamun can paham kana agama, anu luyu jeung elmu panemu bae. Ngarah diskusi henteu matak sara.

  6. Kuring ngarasa heran ka Urang Jawa Barat, kunaon mani ngewa-ngewa teuing kana babi ?
    Babi haram, keur anu nganut Agama Islam. Tapi, kunaon teu boga toleransi keur panganut agama lianna ? Beda jeung Urang Jawa Tengah atawa Jawa Timur, hare-hare bae. Lain pahala atawa dosa teh keur masing-masing panganut ? Rek ka Sawarga atawa ka Naraka oge keun bae, teu kudu ngewa jeung sirik ka batur. Anggur mere conto/tuladan nu hade ka batur nu beda agama atawa kayakinan.

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s