Lemburkuring2007

Rancage

Tunda talatah

Rancagé dan Samsudi 2008

Menjelang akhir tahun 2007, buku bahasa Sunda (dan juga Jawa) yang terbit mendadak melonjak jumlahnya. Mendadak banyak penerbit yang sebelumnya tak pernah memerhatikan buku bahasa Sunda (dan Jawa), tiba-tiba seakan-akan berlomba-lomba menerbitkan buku bahasa Sunda (dan Jawa), baik buku lama maupun karya baru.

SAYANGNYA, hal itu muncul bukan karena kesadaran akan pentingnya atau minat penerbit terhadap buku dalam bahasa ibu, melainkan karena ada bocoran tentang rencana pemerintah yang akan mengadakan projek pembelian buku-buku dalam bahasa ibu yang dananya miliaran, bahkan puluhan miliar rupiah.

Meskipun pembeliannya –sesuai aturan main yang dibuat oleh para pejabat yang cerdik– melalui “rekanan” yang sudah ditunjuk oleh pemerintah yang meminta kepada para penerbit diskon 40% sampai 60%, tetapi buat para “penerbit projek” tidak jadi masalah karena perusahaannya tidak mengeluarkan biaya rutin (overhead cost) sebab kegiatannya terutama hanya kalau ada projek.

Buku yang ditawarkannya hanya dicetak sebanyak yang diperlukan sehingga biayanya rendah. Mereka tidak mau “berjudi” dengan menjual bukunya di toko-toko buku karena tahu bahwa daya beli dan minat baca bangsa kita sangat rendah. Artinya, keuntungan yang dia peroleh dari penjualan “buku projek” itu tidak akan disalurkan untuk memperkuat industri perbukuan nasional, melainkan akan disalurkan ke bidang usaha lain –membuat hotel– misalnya.

Dengan demikian, program pemerintah membeli buku dalam jumlah puluhan atau ratusan ribu eksemplar, malah jutaan eksemplar sekalipun, tidaklah memperkuat modal industri perbukuan nasional yang lemah.

Pada tahun 2007, terbit 32 judul buku dalam bahasa Sunda, tidak termasuk buku-buku ajar. Di dalamnya termasuk kumpulan sajak, fiksi (roman dan cerita pendek), fiksi terjemahan, bacaan anak-anak, bahasan (esai), kamus, dan lelucon. Secara garis besar yang bisa dipertimbangkan untuk mendapat Hadiah Rancagé 2008 terdiri dari 3 kumpulan sajak (Lagu Simpé karya Asikin Hidayat, Ruhak Burahay di Palataran karya Itto Cs. Margawaluya, dan Jiwalupat karya Godi Suwarna yang merupakan cetak ulang dari beberapa kumpulan yang pernah terbit); 6 roman (Mapay-mapay Jalan Tarahal karya Itto Cs. Margawaluya, Saéni karya Hadi AKS, Sandékala karya Godi Suwarna, Dalingding Angin Janari karya Usép Romli H.M., Misteri Gunung Koromong karya Aan Merdéka Permana 6 jilid, Teu Pegat Asih terjemahan Moh. Ambri dari karangan Soeman Hs.), 4 kumpulan cerita pendek (Ceurik Santri karya Usép Romli H.M., Kingkin kaya Itto Cs. Margawaluya, dan Kembang Kadengda yang merupakan kumpulan bersama), dan 3 uraian tentang pengalaman di kampung, pengalaman naik haji, dan untaian tentang pentingnya memelihara hutan (Kuwung-kuwung: Catetan lalampahan ka pilemburan karya N. Ding Masku dan Ajun Mahrudin dan Dongéng Kuring di Tanah Suci karya Hj. Amalina Nurrohmah dan Nutur Galur Laku Rosul: Ngaheuyeuk Leuweung Ngolah Lahan karya Prof. Dr. M. Abdurrahman M.A.), kumpulan esai (Urang Sunda jeung basa Sunda), polemik (Polémik Undak-usuk Basa Sunda oleh Ajip Rosidi dkk.) dan bunga rampai (Sajak Sunda susunan Ajip Rosidi).

Seperti yang sudah ditetapkan, buku cetak ulang, kumpulan karya bersama dan karya Ajip Rosidi tidak dinilai untuk mendapat hadiah Rancagé.

Selain Mistéri Gunung Koromong yang memang diniatkan penulisnya sebagai cerita populer hiburan yang susunan bahasanya sembarangan, karya-karya prosa yang lain boleh dikatakan cukup baik susunan kalimatnya. Sesungguhnya tak ada salahnya menulis cerita populer atau hiburan untuk menarik minat pembaca, namun sebaiknya bahasa dan kalimatnya dijaga dengan baik. Begitu juga latar sosial kesejarahannya, apalagi kalau dimaksudkan sebagai cerita dengan latar belakang sejarah.

Ada hal yang menarik dalam karya-karya fiksi yang terbit tahun 2007 itu, terutama karya Hadi AKS, Itto Margawaluya, dan Godi Suwarna yaitu bahwa mereka seperti bersepakat menuliskan kehidupan daerah asalnya dengan mempergunakan bahasa lokal pula. Cerita Saéni karya Hadi, mengambil latarnya di pesisir barat Banten, cerita Mapay-mapay Jalan Tarahal dan cerita-cerita dalam Kingkin karya Itto mengambil latar di daerah Karawang dan Subang, sedangkan Sandékala karya Godi mengambil latar di kota kecamatan Kawali, Ciamis.

Karya-karya Itto melukiskan realitas kehidupan daerah pakaléran (utara) dibumbui dengan kalimat-kalimat dalam bahasa Jawa setempat dalam dialog tokoh-tokohnya. Akan tetapi, hanya sampai melukiskan realitas sehari-hari tak ubahnya dengan sketsa. Hadi dalam Saéni berhasil melukiskan kehidupan yang lebih dalam, dihubungkan dengan kepercayaan yang hidup di dalam masyarakat setempat. Hubungan batin antara Ijan (“kami”) dan ibu tirinya dihubungkan dengan sasakala batu Nyi Jompong di dekat Sungai Cibaliung, dihubungkan dengan kepercayaan akan Nyi Munigar siluman yang menghuni Laut Barat.

Bahasa Sunda dialek Banten dalam Saéni tidak hanya terdapat dalam dialog tokoh-tokohnya, tetapi dengan sadar digunakan oleh penulisnya. Dengan gaya cerita orang pertama, dia menggunakan kata “kami” (bukan “kuring”), yaitu sebutan orang pertama yang umum digunakan di masyarakat Banten.

Sementara itu, Godi dalam Sandékala menggunakan sebutan orang pertama “uing” (dari “kuring”, digunakan di lingkungan akrab di perdesaan) dan bahasa dialek Ciamis. Dengan latar belakang krisis sosial-ekonomi yang melanda negeri pada masa reformasi, cerita kehidupan masa kini bersilih tukar dengan kehidupan yang tumbuh dalam kepercayaan yang berakar dalam masyarakat bertalian dengan Perang Bubat beberapa abad yang lalu.

Keduanya terjalin seperti tidak dapat dipisahkan sehingga pembaca harus teliti mengikuti arus cerita yang berhasil dipelihara dengan baik oleh Godi meskipun penggunaan yang eksesif suku kata kata kerja yang diulang seperti “ngagegebrét”, “ngahuhuleng”, “nunungguan”, “ngajajanteng”, “ngalelempéh” dan sisipan “um” seperti “gumerendeng”, “gumeter”, “jumerit”, “gumalindeng” hanya menimbulkan tanda tanya.

Dalingding Angin Janari karya Usép Romli H.M. melukiskan usaha sia-sia gadis korban pergaulan kota metropolitan yang berdua dengan ibunya kembali ke kampung dekat dengan lingkungan pesantren minta dibimbing oleh kiai dan anak gadisnya yang saleh. Ibunya berhasil, tetapi dia sendiri terseret kembali ke dunia yang dia sadari sudah merusak dirinya.

Meskipun penuh dengan uraian tentang ayat-ayat Alquran dan soal-soal keagamaan lain, namun ceritanya lancar. Sayang, ada keteledoran yang harusnya diperbaiki oleh editor namun luput, yaitu keterangan tentang tempat tinggal sang ibu. Pada awalnya disebutkan menumpang di rumah orang, tetapi kemudian disebut bahwa dia tinggal di rumah warisannya sendiri. Begitu juga Néndah yang ketika sehabis mengantarkan Fénny ke terminal pulang ke Jakarta langsung menemui ibunya Fénny, ketika pulang dari rumah ibunya Fénny itu mendapat surat Fénny dari pos.

Kumpulan sajak Lagu Simpé karya Asikin Hidayat dan Ruhak Burahay di Palataran karya Itto Margawaluya, baru merupakan usaha menggunakan sajak sebagai bentuk pengucapan, belum sampai pada gaya yang otentik. Tema yang dimuat di dalamnya pun merupakan tema yang biasa terdapat dalam umumnya sajak-sajak bahasa Sunda.

Setelah dipertimbangkan antara Sandékala dan Saéni, akhirnya diputuskan bahwa Hadiah Rancagé 2008 untuk karya sastra Sunda diberikan kepada Sandékala (roman karya Godi Suwarna terbitan Penerbit Kelir, Bandung).

Dengan hadiah ini, Godi menjadi tiga kali memperoleh Hadiah Rancagé, semuanya untuk karya. Masing-masing tahun 1993 untuk kumpulan sajaknya Blues Kéré Lauk dan tahun 1996 untuk kumpulan cerita pendek Serat Sarwasatwa.

Dengan demikian, ada tiga orang sastrawan yang telah mendapat Hadiah Rancagé tiga kali. Yang lain adalah sastrawan Jawa Suparto Brata, yaitu tahun 2000 (untuk jasa), 2001 (untuk karya kumpulan cerpen Trém) dan 2005 (untuk karya roman Donyané Wong Culika). Dan yang seorang lagi ialah sastrawan Bali I Nyoman Manda yang tahun ini mendapat hadiah lagi untuk karya. Sebelumnya dia mendapat hadiah untuk jasa (1998) dan untuk karya (2003).

Sementara itu, Hadiah Rancagé 2008 untuk jasa karena telah melakukan usaha memelihara dan melestarikan bahasa Sunda diberikan kepada Grup Téater Sunda Kiwari (TSK) pimpinan R. Dadi Danusubrata.

TSK didirikan oleh R. Dadi Danusubrata, R. Hidayat Suryalaga dkk. pada tahun 1975 di Bandung. Sejak itu, TSK tak henti-hentinya mengadakan pertunjukan teater modern dalam bahasa Sunda, walaupun mereka merasakan kekurangan naskah untuk dipentaskan, karena para pengarang Sunda sedikit saja yang menulis naskah drama.

Sejak 1988 TSK menyelenggarakan Festival Drama Basa Sunda (FDBS) dua tahun sekali. Tahun 2008 ini FDBS diselenggarakan untuk kesebelas kalinya. FDBS pertama diikuti oleh sembilan peserta, tetapi tahun-tahun selanjutnya terus bertambah. Tahun 2006 pesertanya ada 53 dan tahun ini ada 60 peserta. Peserta festival itu meningkat dari tahun ke tahun meskipun belum berhasil mendorong lahirnya grup-grup teater Sunda profesional.

Kebanyakan peserta FDBS itu anak-anak sekolah karena TSK ingin membangkitkan minat dan kecintaan anak-anak terhadap bahasa ibunya.

Hadiah Samsudi

Pada tahun 2007 ada 5 judul buku bacaan untuk anak-anak yang terbit dalam bahasa Sunda, yaitu Banjir Getih di Pasantrén Cimarémé oleh Aan Merdéka Permana, Lalampahan Napoléon saduran H.A. Rochman, Si Sekar Panggung dan Ochank oleh Tatang Sumarsono, dan Catetan Poéan Réré oleh Ai Koraliati.

Banjir Getih adalah “cerita sejarah” yang ditulis sembarangan tanpa usaha penulisnya untuk mengetahui latar sejarahnya, bahasanya juga sembarangan. Lalampahan Napoléon (saduran) mengisahkan kehidupan Napoleon Bonaparte. Ochank karya Tatang Sumarsono naskahnya memperoleh hadiah kedua dalam sayembara mengarang roman kanak-kanak yang diselenggarakan oleh PP-SS tahun 2007. Buku berkisah tentang pengalaman Ochank yang dihubungkan dengan kepercayaan akan adanya dunia siluman ular sambil membangkitkan kesadaran anak-anak yang membacanya akan arti lingkungan.

Sementara itu Si Sekar Panggung sangat menarik karena mengenai kehidupan anak-anak yang ingin menjadi joki dan sehari-hari bergaul dengan kuda. Pengarang dengan cermat melukiskan kehidupan orang yang mempunyai dan mengurus kuda lomba yang dalam bahasa Sunda sebelumnya tak pernah ada.

Catetan Poéan Réré (Catatan Harian Réré) juga mengenai masalah yang sebelumnya tak pernah dijadikan tema cerita dalam bahasa Sunda, yaitu masalah kelainan pada kejiwaan anak banci. Dan Ai mengemukakannya dengan sederhana, tetapi menjaga ketegangan dengan membukanya sedikit demi sedikit melalui catatan harian adiknya yang perempuan. Masalah yang musykil itu dikisahkan oleh Ai dari kacamata anak gadis yang secara terpaksa menjadi penanggung jawab rumah tangga keluarga, karena ibunya meninggal dan ayahnya pergi. Bahasa yang digunakannya sangat cermat dan terpelihara sehingga baik untuk contoh bagi anak-anak yang membacanya. Naskahnya mendapat hadiah pertama dalam sayembara mengarang bacaan anak-anak yang diselenggarakan oleh PP-SS tahun 2007.

Setelah dipertimbangkan dengan saksama, Hadiah Samsudi 2008 ditetapkan untuk diberikan kepada Catetan Poéan Réré karya Ai Koraliati (terbitan Penerbit Grafindo Media Pratama, Bandung).***

AJIP ROSIDI

Budayawan Sunda dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancagé

Sumber : KHASANAH/ HU. Pikiran Rakyat Sabtu 2 Februari 2008

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s