Lemburkuring2007

Sertifikasi Guru

Tunda talatah

Antisipasi Penyalahgunaan Portofolio
Sertifikasi Guru dalam Jabatan

Oleh: ASEP KUSNAWAN, S.PD.

Sumber : HU. Galamedia

SETELAH hampir dua tahun UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen diterbitkan, kini para guru dengan gembira bisa mengharapkan adanya perubahan kesejahteraan melalui turunnya PP mengenai sertifikasi. Pemerintah menggunakan Peraturan Mendiknas No. 18/2007 sebagai landasan hukum bagi pelaksanaan sertifikasi untuk guru dalam jabatan.

Melihat peraturan Mendiknas tersebut, dinyatakan bahwa proses sertifikasi bagi para guru dalam jabatan dilakukan dengan penilaian terhadap portofolio. Penilaian portofolio merupakan penilaian yang dilakukan terhadap dokumen-dokumen yang dimiliki guru sebagai bentuk pengakuan atas profesionalisme guru selama menjadi tenaga pendidik, prestasi yang diraih, pengabdian dan loyalitas, juga kemampuan-kemampuannya lain yang mencerminkan posisinya sebagai seorang sebagai guru dan pendidik.

Skor penilaian portofolio dilakukan atas dasar standar kompetensi dari setiap bukti-bukti fisik yang dimiliki guru, berdasarkan pada empat kompetensi yang harus dimiliki seorang guru profesional. Keempat kompetensi tersebut adalah kompetensi pedagogik, kepribaidan, sosial, dan profesional. Peraturan Mendiknas menjabarkan empat kompetensi guru profesional tersebut menjadi 10 komponen portofolio yang akan dinilai.

Ke-10 komponen tersebut adalah (1) kualifikasi akademis, (2) pendidikan dan pelatihan, (3) pengalaman mengajar, (4) perencanaan dan pelaksanaan pengajaran, (5) penilaian dari atasan dan bawahan, (6) prestasi akademik, (7) karya pengembangan profesi, (8) keikutsertaan dalam forum ilmiah, (9) pengalaman organisasi di bidang pendidikan dan sosial, dan (10) penghargaan yang relevan dengan bidang kependidikan. Setiap komponen tersebut harus dibuktikan dengan bukti fisik, baik berupa ijazah, sertifikat, piagam, surat keputusan maupun karya yang dihasilkan.

Disadari bahwa guru yang berkualitas menjadi tantangan dan citra bagi lembaga di mana guru yang bersangkutan mengajar. Ketika seorang guru mempunyai semangat dan etos kerja yang tinggi dan menjunjung profesionalisme, dengan selalu berupaya melakukan inovasi dan kreativitas, kita yakin dengan sendirinya nilai dan citra dirinya akan meningkat. Dengan demikian, nilai kesejahteraan pun akan meningkat. Sertifikasi adalah dua sisi yang saling tak terpisahkan. Membangun kualitas dan profesionalisme guru di satu sisi dan meningkatkan kesejahteraan guru di sisi lain.

Yang perlu dicermati, pengumpulan bukti fisik sebagai landasan sertifikasi rentan terhadap terjadinya manipulasi data. Seorang guru yang sudah lama mengabdi tiba-tiba harus mengumpulkan semua bukti fisik tersebut dalam waktu relatif singkat, karena dikejar target harus mencapai skor keseluruhan 850. Jelas, mungkin bagi beberapa guru dengan waktu yang singkat, hal ini tidak mungkin dilakukan.

Selain itu, guru yang mengajar di sekolah dengan kondisi administrasi yang tidak baik atau guru yang mengajar tanpa dokumen persiapan mengajar pun akan mengalami kesulitan dalam pengumpulan dokumen yang dimaksud. Sekali lagi jelas bahwa jika dicermati, untuk memasuki jenjang ini perlu persiapan yang tidak instan. Bukan hanya mengumpulkan bukti fisik. Kumpulan prasyarat tersebut adalah akumulasi proses yang telah dijalani seorang guru dalam menjalankan profesi keguruannya. Mereka adalah pembelajar sepanjang hidup (long life learners).

Tentu kita tidak ingin melihat praktik jual beli bukti fisik oleh seorang guru yang akan menjalani sertifikasi, karena kekurangan bukti fisik yang harus dikumpulkan. Mentalitas fatalistik yang gampang menyerah, tidak seharusnya dimiliki seorang pendidik hingga menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan yang sesungguhnya sangat mulia tersebut. Moralitas berupa kejujuran dan semangat pantang menyerah harus ditunjukkan guru guna meraih sertifikat profesional ini.

Seorang profesional tentu akan bekerja profesional dilandasi kerja keras dan semangat untuk memberikan yang terbaik bagi pekerjaannya melalui jalan yang terbaik pula. Jalan yang diridai Allah SWT guna mencapai tujuannya. Apalah jadinya jika cita-cita sertifikasi yang begitu luhur mengangkat derajat kesejahteraan guru, serta membangun posisi guru sebagai profesi yang sejajar dengan profesi lainnya, menjadi cacat, bahkan hilang rohnya karena sertifikasi diraihnya dengan cara yang salah.

Proses sertifikasi yang panjang karena melibatkan sektiar 2,7 juta guru dengan sistem kuota ini, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi guru untuk sabar dan berbenah mulai dari sekarang, sampai pada gilirannya sertifikasi datang pada kita. Semoga semangat profesionalisme yang membara tertanam pada diri kita dalam menyikapi sertifikasi ini. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, harus menjadi moto guru, seperti yang diajarkan Rasulullah SAW. Wallahu’alam.  (penulis adalah staf pengajar smp islam salman al farisi bdg, litbang yayasan pendidikan salman al f

 
 
 

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s