Lemburkuring2007

Swadaya Masyarakat Kuningan

2 Pairan

OLEH : A. MAHRUDIN (Pernah dimuat di Buletin Purbawisesa)

BICARA soal swadaya masyarakat Kabupaten Kuningan, mungkin tak diragukan lagi. Banyak yang dapat dijadikan tolok ukur, diantaranya saja dengan banyaknya Masjid desa megah yang dibangun dengan pola swadaya masyarakat di masing-masing desa. Hal itu menurut Wakil Gubernur (Wagub) Jawa-Barat, H. Nu’man Abdul Hakim, adalah salah satu gambaran bahwa tingginya tingkat swadaya masyarakat di daerah ini.

Bahkan, kata Nu’man, bila dibandingkan dengan daerah lain khususnya di wilayah Cirebon, tingkat swadaya masyarakat Kabupaten Kuningan jauh lebih tinggi. Oleh sebab itu, swadaya yang sudah tumbuh itu diharapkan dapat ditingkatkan pada swadaya pembangunan sektor lain.”Kemampuan swadaya membangun Masjid desa di Kabupaten Kuningan, diharapkan bisa dijadikan faktor pendorong untuk kegiatan produktif. Misalnya, mendirikan Bank Muamalat (BMT) atau koperasi dengan diawali membangun sistem pelatihan manajemen koperasi skala kecil,” papar Nu’man, saat membuka Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di Desa/Kecamatan Maleber, beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, peningkatan swadaya ke arah seperti itu sangat memungkinkan untuk dilakukan masyarakat pedesaan Kabupaten Kuningan. Namun yang menjadi persoalan, memerlukan proses untuk menumbuhkan kesadaran baru dalam pola swadaya masyarakat itu sendiri. “Jika itu berhasil diterapkan, maka masyarakat Kabupaten Kuningan akan punya dana komulatif yang cukup besar. Misalnya ada satu juta jumlah penduduk, satu orang warga sehari menabung Rp. 1000, maka dana yang terkumpul sudah satu milyar rupiah,” papar Nu’man..

H. US. Tiarsa, salah seorang pemerhati sosial budaya di Jawa-Barat, menyebutkan bahwa swadaya masyarakat di Kabupaten Kuningan tumbuh dari nilai-nilai tradisi yang sudah melekat sejak puluhan tahun lalu. Nilai-nilai luhur ini, kata US Tiarsa patut dipertahankan, sehingga menjadi Ciri Mandiri Rayat Kuningan.

Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Kuningan dipandang perlu melakukan berbagai pendekatan kepada masyarakat. Pendekatan dimaksudnya bisa dilakukan melalui riungan dengan para tokoh, kampanye masyarakat cinta swadaya, membentuk model desa swadaya, bahkan bila perlu diperdakan. “Hal itu penting, untuk mengantisipasi lunturnya budaya swadaya masyarakat. Sebab swadaya bisa menurun disebabkan oleh beberapa faktor. Bisa disebabkan oleh faktor menurunnya kondisi ekonomi masyarakat, bisa pula faktor pemerintah yang salah dalam menerapkan pola kebijakan,” papar mantan Peminpin Redaksi Koran Sunda Galura itu.

.

Hal senada dikatakan Drs. Anwar Bahrudin, M.Pd., salah seorang praktisi pendidikan di Kabupaten Kuningan. Tingkat swadaya masyarakat Kabupaten Kuningan, secara umum boleh dikatakan masih menggembirakan. Namun di sisi lain, ada hal yang memrihatinkan terkait dengan melemahnya budaya gotong royong khususnya dalam hal membangun sarana pendidikan. “Karena saya ada di lingkungan pendidikan, sering mendengar warga Kuningan yang punya anggapan bahwa membangun sarana pendidikan sudah menjadi kewajiban pemerintah. Padahal, dulu membangun sekolah nyaris sama dengan pola swadaya membangun Masjid sekarang ini,” Kata Anwar.

Menurut Anwar, tahun 1970-an, di Kabupaten Kuningan tak sedikit sekolah yang dibangun dengan menghimpun swadaya masyarakat. Namun, ketika pemerintah membangun sekolah misalnya SD INPRES, swadaya masyarakat membangun sarana pendidikan itu mulai menurun.

Anwar mencontohkan, berbagai cara dalam pelaksanaan pembangunan sekolah saat itu. Ada yang dengan cara menugaskan siswa membawa satu batu-bata, satu cecempeh pasir secara rutin tiap hari bergiliran, ada pula yang dilaksanakan secara rereongan (bersama-sama) warga mengambil batu di sungai. Begitu pula, bagi warga yang punya pohon kayu, bambu dengan sukarela menyumbangkannya kepada panitia pembangunan sekolah. “Meskipun dilakukan dengan cara seperti itu, bangunan sekolah tidak kalah bagus dan kuat dengan bangunan sekolah sekarang,” jelas Anwar.

***

Swadaya Dalam Angka

BERDASARKAN data Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Kabupaten Kuningan, ternyata tingkat swadaya masyarakat di daerah ini masih relatif tinggi. Buktinya, pada tahun 2005, swadaya masyarakat Kabupaten Kuningan secara keseluruhan dihitung dengan nilai uang mencapai Rp. 20.569.142.000,. Angka swadaya sebesar itu terserap melalui berbagai program, melalui Program Pengembangan Kecamatan (PPK) Rp. 1. 658.352.750, Raksa Desa Rp. 1.693.809.750,. Pengelolaan Jalan Bersama Masyarakat (PJBM) Rp. 6.500.346.500,. Dana Alokasi Desa (DAD) Rp. 10. 716.633.000,-.

Sementara, tahun 2006 swadaya masyarakat Kabupaten Kuningan yang berhasil terserap mencapai Rp. 59.615.006.290,-. Angka swadaya itu diperoleh melalui Dana Alokasi Desa (DAD) Rp. 7.691.403.520,-, Anggaran Penerimaan Belanja Daerah (APBD) Rp. 16. 908.525.962,-, Program Pengembangan Kecamatan (PPK) Rp. 4.247.252.450,-, Raksa Desa Rp. 2.425.645.400,-, Imbal Swadaya Rp. 21.722.095.538,- dan swadaya yang diperoleh sumber lain Rp. 6.620.083.600.

Peran Nyata Masyarakat

KEGIATAN pembangunan jalan lingkungan di Desa Cimara, Kecamatan Pasawahan, adalah satu fakta bahwa masih tingginya tingkat swadaya masyarakat di Kabupaten Kuningan. Mengapa tidak, sebab dalam pelaksanaanya dikerjakan dengan cara swadaya murni masyarakat. Artinya, tanpa melibatkan bantuan pemerintah. Padahal, dana untuk membangun jalan itu mencapai Rp. 66 juta.

Menurut Kepala Desa Cimara, A. Amanan, pembangunan jalan itu dilaksanakan secara bertahap. Tahap pertama membangun jalan lingkungan di blok Cibungur, dengan panjang 200 meter, lebar 3 meter. Kemudian membangun jalan di blok Nyi Tapa, panjang 150 meter, dengan lebar yang sama.

Amanan menjelaskan, sengaja pihaknya tidak mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah untuk membangun jalan tersebut. Pasalnya, hal itu sangat memungkinkan untuk dikerjakan dengan cara swadaya. “Kalau kita mampu mengapa harus minta bantuan, karena mungkin pada saat tertentu kita pun butuh bantuan pemerintah untuk meringankan bila kita memang tak mampu,” ujar Kades Cimara, yang kini memasuki dua periode itu.

Contoh lain di Di Desa Linggajaya, Kecamatan Karangkancana. Walau desa ini belum genap tiga tahun berdiri, namun desa yang berpenduduk 2.372 jiwa (657 KK) itu mampu membangun Kantor Kepala Desa cukup megah, yang dananya sebagian besar dihimpun dari masyarakat Rp. 70 juta. *

2 thoughts on “Swadaya Masyarakat Kuningan

  1. Setuju Kang..! Iya kan klo pemerintah ngasih bantuan teh tujuanana mah agar masyarakat termotivasi untuk melakukan swadaya sanes kitu? Ini sebaliknya, kalau masyarakat semangat berswadaya. Mungkin pemerintah yang harus termotivasi memberi bantuan. Ha..ha..ha…! Nuhun, komentarna Kang…!

  2. duh bagus sekali kalau warga kuningan masih memiliki semangat swadaya yang tinggi. Itu modal yang sangat kuat untuk membangun daerah sendiri tanpa berharap pada bantuan luar, termasuk pemerintah.

    Tapi keterlaluan kalau pemerintah, tidak membantu mengembangkan nilai swadaya tersebut.

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s