Lemburkuring2007

Guru “Luh-lah”

6 Pairan

Jika Para Guru Mengajarkannya Secara ”Luh-lah”
Bahasa Sunda Akan Punah


Perkembangan bahasa Sunda dewasa ini sungguh mengkhawatirkan. Berkaitan dengan itu, seorang guru dalam mengajarkan mata pelajaran bahasa Sunda kepada anak didiknya di dalam kelas harus disertai dengan rasa riang, penuh semangat, dan tanggung jawab.
Jika seorang guru dalam mengajarkan bahasa Sunda kepada anak didiknya disertai perasaan luh-lah karena tidak menguasai materi yang akan diajarkannya dengan baik, tidak mustahil punahnya bahasa Sunda akan menjadi kenyataan dalam kehidupan Ki Sunda.

Mantan Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Sunda Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Sunda UPI Bandung, Drs. H. Elin Sjamsuri mengatakan hal itu dalam acara Workshop Implementasi KTSP Dina Pembelajaran Basa Sunda Pikeun Kepala SD, Guru SMP, SMA, jeung SMK, Sabtu (9/6) di Gedung Puspita, Jln. Ahmad Yani 17,

Pembicara lainnya dalam acara itu, adalah Drs. Taufik Faturohman, Drs. Tatang Sumarso, dan Dr. H.E. Mulyasa, M.Pd. Acara tersebut dihadiri oleh 300 peserta, terdiri atas Kepala SD, guru bahasa Sunda untuk tingkat SMP, SMA, dan SMK se-Kab. Ciamis dan Kota Banjar.

Acara yang digelar oleh CV Geger Sunten-Tiga Serangkai, dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran Basa Sunda Kab. Ciamis dan Kota Banjar itu, selain membahas apa dan bagaimana pelajaran bahasa Sunda dewasa ini, juga membahas isi buku Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar serta Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Sunda yang baru saja dikeluarkan oleh Pemerintah Jawa Barat dengan SK Gubernur No. 423.5/Kep.674-Disdik/2006, yang dinilai membingungkan bagi para guru mata pelajaran basa Sunda di lapangan. Ini terjadi karena antara isi materi standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) dalam buku panduan kurikulum tersebut terasa pabaliut.

Hal itu sebagaimana dikatakan oleh Ketua MGMP Basa Sunda Kab. Ciamis, Drs. Jajang Kusnadi dan Ketua MGMP Basa Sunda Kota Banjar di sela-sela acara tersebut. Pihaknya sepakat dengan para pembicara mendesak Gubernur Jawa Barat untuk segera merevisi isi buku panduan kurikulum yang sudah diterbitkan.

Lepas dari persoalan tersebut keempat narasumber mengatakan dalam mengajarkan bahasa Sunda kepada anak didik di dalam kelas harus pula diajarkan tentang budaya Sun

Sumber : HU. Pikiran Rakyat

6 thoughts on “Guru “Luh-lah”

  1. adduuuuuuh kumaha deui atuh barudakna ge kieu……………
    guruna ge sami wae luh-lah

  2. Satuju pisan

  3. Ari tos ngeunaan kana bahasa karuhun (sunda) janten emut keur jamanna sakola kapungkur di smpn 2 kuningan emut ka guru bahasa sunda P`Entik bumina teh lebakeun sakola, da ete saupamina nuju ngawulang di kelas teh anjeunamah leres2 pisan kumaha sangkan muridna teh dugi ka ngarti.
    Duka ayeuna pelajaran bahasa sunda di smp masih aya keneh atanapi tos kageser ku bahasa gaulna barudak ayeuna.
    Pabaliut awas janten pajeujeut kalau sudah pajeujeut rada-rada susah, hayu atuh pamarentah daerah pajengkeun bahasa sunda jangan sampai seperti judul bacaan di atas.

  4. Standar kompetensi PABALIUT
    guru anu ngajarna LUH-LAH
    untung anak didikna teu LIEUR/JANGAR oge

    supados apdol, seminar ngenaan bahasa sunda kedah nganggo bahasa sunda
    anjuran budaya sunda kedah diajarkeun ka anak didik. . . . SATUJU PISAN

  5. Sami abdi oge nuju pabaliut🙂

  6. muhun abdi kadang sok luh lah..ieu teh.

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s