Lemburkuring2007

Orang “Eusleum” yang Masih Peduli Bahasa Daerah

Tunda talatah

Orang “Eusleum” yang Masih Peduli Bahasa Daerah

”BAHASA jeung sastra daerah mah hirup ku maneh” (Bahasa dan Sastra daerah itu hidup oleh dirinya sendiri). Kalaupun ada orang-orang yang mau menjaga, melestarikan, dan mengembangkan kelangsungan hidup bahasa dan sastra daerah, mereka termasuk orang-orang eusleum (gila).

PENERIMA hadiah sastra “Rancage 2007” (dari kiri) R. Rabindranat Hardjadibrata, Maria Kadarsih, I Made Suarsa, Ahmad Tohari, Rukmana H.S., dan Ida Bagus Darmasuta, seusai penganugerahan di Unisba Bandung, Sabtu (2/6).*M. GELORA SAPTA/”PR”

Budayawan yang mencoba memberikan penghargaan kepada para penulis tanpa dukungan biaya sepeser pun dari pemerintah, adalah “orang gila”. Penulis yang mau menuliskan ide-idenya lewat karya tanpa memperhitungkan imbalan atas karyanya, juga termasuk “orang gila”.

“Jadi, kita yang masih mencoba peduli terhadap bahasa dan sastra daerah yang sudah hampir mati ini, memang termasuk orang-orang eusleum,” ujar Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi saat memberikan sambutan pada penyerahan hadiah “Rancage 2007” kepada 6 pemenang, di Aula Unisba, Jln. Tamansari, Sabtu (2/6).

Ungkapan yang disampaikan Kang Ajip, merupakan puncak kekesalan dan kemarahannya terhadap pemerintah yang tidak peduli terhadap bahasa dan sastra Sunda. Menurutnya, pemerintah tidak pernah mempunyai perhatian sama sekali terhadap bahasa dan sastra daerah.

Kalaupun ada perhatian dan ingin membantu, bukan untuk kepentingan kebudayaan, bahasa, dan sastra daerah itu sendiri. Tetapi untuk mendapatkan keuntungan dan komisi dari bantuan yang akan diberikan tersebut.

Padahal pemuliaan bahasa dan sastra daerah tercantum dalam UU. Bahkan, pemerintah daerah Jawa Barat mempunyai peraturan daerah (Perda) bahasa dan kebudayaan.

“Tapi negara kita memang sudah menjadi negara paling korup. Dalam penerbitan buku, misalnya, pemerintah hanya mau membantu penerbitan yang menjanjikan komisi. Jadi, bukan semata-mata untuk pemuliaan kebudayaan bahasa dan sastra daerah yang sesungguhnya. Tetapi lebih untuk kepentingan mereka sendiri,” kata Ajip.

Oleh karena itu, Ajip menegaskan, penyebutan bahasa daerah sebaiknya diganti dengan bahasa ibu. Sebab selain Unesco sudah menetapkan 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional, mungkin jika bahasa daerah disebut bahasa ibu, pemerintah atau siapa pun akan lebih peduli terhadap nasib bahasa tersebut.

Sugan we kalau sudah disebut bahasa ibu mah, bahasa daerah teh akan mendapat perhatian. Sebab semua orang pasti punya ibu,” tuturnya.

Penyerahan “Rancage 2007” dihadiri Ketua Pembina Yayasan Unisba Dr. H. Miftah Faridl, Rektor Unisba Prof. Dr. Saefullah, L.L.M., Rektor Unpad Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, Wakil Ketua KPK Erry Riyana Hardjapamekas, Kepala Dinas Pariwisata Kota Bandung M. Askary, Direktur Utama PT Pikiran Rakyat Bandung H. Syafik Umar, Ketua DPD Golkar Jabar H. Uu Rukmana, Ketua KPU Jabar Setia Permana, para seniman serta budayawan lainnya.

Rektor Unisba mengatakan, meskipun Unisba belum mempunyai program studi kesundaan, tetap concern terhadap upaya-upaya pelestarian dan pengembangan bahasa, sastra, dan budaya Sunda. Terlebih ketika budaya Sunda menyebutkan “Sunda identik dengan Islam”.

Selain itu, perhatian Unisba juga merupakan bagian dari bentuk kerja kolektif perguruan tinggi selaku lembaga pendidikan. Terutama dalam menyosialisasikan nilai-nilai budaya Sunda kepada generasi muda.

Karya dan jasa

Penyerahan hadiah “Rancage 2007” diberikan kepada 6 orang pemenang untuk dua kategori, karya dan jasa. Untuk kategori karya berbahasa Sunda diberikan kepada Rukmana H.S. untuk kumpulan cerpennya Oleh-Oleh Pertempuran. Untuk karya berbahasa Jawa diberikan kepada Ahmad Tohari (Ronggeng Dukuh aruk Banyumasan), dan untuk karya berbahasa Bali diberikan kepada I Made Suarsa untuk kumpulan cerpennya yang berjudul Gede Ombak Gede Angin.

Sedangkan untuk jasa dalam khazanah Sunda diberikan kepada Rabindranat Hardjadibrata untuk jasanya menulis tesis yang berjudul Sundanese a Syntactical Analysis (1996) saat meraih gelar MA dari Universitas Monash dan menyusun kamus Sunda-Inggris Sundanese English Dictionary (2003) untuk kebutuhan pengajaran.

Penghargaan jasa khazanah bahasa Jawa diberikan kepada Maria Kadarsih, penulis naskah drama berbahasa Jawa yang sangat produktif sejak 1983 hingga sekarang dan disiarkan di RRI Yogyakarta. Selain menulis naskah drama, Maria juga dikenal sebagai sutradara, pemain sandiwara, dan menangani berbagai kegiatan berkaitan dengan kebudayaan Jawa, khususnya pembinaan sastra Jawa.

Penghargaan jasa khazanah bahasa Bali diberikan kepada Ida Bagus Darmasuta, Kepala Balai Bahasa Bali yang sudah berhasil menyelenggarakan ”Temu Sastra Bali Modern Desember 1999” yang dihadiri para penulis sastra Bali modern dari seluruh Pulau Bali. Selain itu, Darmasuta juga merancang program nyata dengan memberikan dukungan moral finansial untuk penerbitan majalah sastra Bali seperti Buratwangi, Canang Sari, dan Satwa *

Sumber : HU. Pikiran Rakyat

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s