Lemburkuring2007

Perpustakaan Sekolah

4 Pairan

Perpustakaan Sekolah
Elemen Penting yang (tak) Terjamah

”Film ini aja!” kata Andria. “Enggak ah, kita mendingan nonton yang ini aja,” balas Sondang sambil menunjuk cover DVD yang bergambar cewek berseragam cheerleaders. Setelah berdebat cukup ramai, akhirnya sekelompok temen-temen kelas satu SMPK Yahya ini sepakat memilih Narnia, The Witch, The Lion, and The Wardrobe, sebagai film yang bakal mereka tonton. Lalu, mereka menghubungi petugas perpustakaan untuk mengurus administrasi. Seribu perak aja yang harus mereka bayar untuk kesenangan kali ini. Enggak berapa lama kemudian, perpustakaan yang terletak di ujung koridor lantai dua SMPK Yahya ini berubah menjadi sedikit bising. Maklum, cewek-cewek kalau dikumpulin jadi satu emang susah untuk disuruh diam.

PERPUSTAKAAN, buat temen-temen di SMPK Yahya ini emang bukan sekadar tempat sepi penuh buku, yang hanya dikunjungi kalau mereka sedang diburu tugas oleh Bapak dan Ibu guru. Tapi, perpustakaan yang berukuran enggak terlalu besar ini bisa mengubah mood mereka –dari bete jadi senang. “Iya, kami kan baru aja ngerjain ulangan umum IPA. Ini hari pertama sih, untung aja selesainya cepet, Jadinya masih sempat nonton DVD bareng,” tutur Andria.

Keberadaan perpustakaan yang punya stereotype sepi, membosankan, dan hanya dikunjungi jika ada tugas yang harus diselesaikan, sedikit demi sedikit telah berubah. Memang, belum banyak perpustakaan sekolah yang menawarkan konsep nyaman dan menyenangkan untuk dikunjungi. Tapi, bukan berarti enggak ada kan? Salah satunya adalah perpustakaan SMP-SMAK Yahya. Di sekolah yang terletak di kawasan wisata belanja orang Jakarta ini, perpustakaan justru malah jadi tempat paling asyik untuk dikunjungi kala guru berhalangan hadir, sewaktu istirahat, atau pulang sekolah. Maklum, di sini koleksi perpustakaannya lumayan lengkap, dari mulai buku pelajaran, ensiklopedia, kamus thesaurus Indonesia-Inggris, novel-novel fiksi, teenlit-chiclit, majalah-majalah terbaru, koran yang selalu baru setiap harinya, CD-DVD pembelajaran, psikologi praktis, sampai film-film yang biasanya nongkrong di rak CD kamar Belia. Asyik banget kan?

Kalau kata Bu Endah, pengurus perpustakaan di SMP-SMAK Yahya, koleksi buku dan CD/DVD yang ada di perpustakaan ini selalu mengalami pembaruan. “Penambahan koleksi baru dilakukan sebulan sekali oleh perpustakaan. Itu termasuk juga untuk koleksi filmnya.” Lain lagi dengan perpustakaan milik SMAN 2 Bandung. “Untuk koleksi, kami mendapatkan dropping buku dari dinas per tahun ajaran. Ada buku paket, referensi, dan buku pegangan untuk guru. Selain itu, sekolah pun mengalokasikan dana untuk pembelian buku lewat dewan sekolah. Kami juga menerima sumbangan dari yayasan, penerbit, alumni, orang tua, dan guru. Terakhir kami, dari pihak perpustakaan membeli sendiri termasuk fasilitas yang ada di perpustakaan termasuk toa,” tutur Drs. Eman Surachman, kepala perpustakaan SMAN 2 Bandung.

Perpustakaan jadi alternatif yang sangat menguntungkan bila kita enggak punya banyak uang untuk beli buku. Meski sedikit ribet dengan berbagai peraturan yang harus dipatuhi saat kita mengunjungi perpustakaan, it worth for the money. Pernah kepikiran kenapa harga buku mahal banget? Selama ribuan tahun orang menulis di atas batu dan papirus, di atas potongan kayu, dan tempurung kura-kura, lembaran tanah liat kering, pecahan tembikar, kulit hewan, dan lembaran dari lilin. Seiring perjalanan waktu, buku-buku dicetak di atas perkamen dan lembaran kertas, yang tentu saja ditulis dengan tangan. Ini yang bikin harga buku saat itu mahal banget. Sekitar tahun 1450, Guttenberg yang saat itu berprofesi sebagai pandai besi, menemukan mesin cetak. Saat itu pulalah atom dan molekul-molekul dalam dunia perbukuan tercipta.

Sekarang hampir setiap perpustakaan menambah koleksinya dengan material yang nonbuku. Mereka adalah peta, CD, VCD, DVD, piringan hitam kuno, semua koran yang terbit di negara tersebut, bahkan sampai rekaman program-program TV yang dimiliki negara tersebut. Pokoknya, semua material yang dianggap masih berharga dan mengandung nilai informasi tinggi, dimiliki oleh perpustakaan modern di negara-negara besar. Selain benda-benda baru, perpustakaan besar biasanya punya koleksi incunabula –buku-buku yang dicetak pada masa awal percetakan buku. Koleksi yang sangat berharga ini bisa ditemui di perpustakaan nasional Norwegia.

Enggak semua perpustakaan sekolah punya banyak fans kayak di Yahya. Bahkan, perpustakaan dengan koleksi memadai serta bisa memenuhi kebutuhan akademik dan hiburan jumlahnya mungkin bisa dihitung dengan jari. Di perpustakaan SMAN 2 Bandung misalnya. Meski fasilitas memadai, kebanyakan Belia di sini masih segan untuk mengunjungi perpustakaan. “Saya ke perpustakaan karena ada tugas untuk merangkum novel. Ini kunjungan saya yang kedua dalam waktu setahun,” kata Yopie, Belia kelas X yang sedang asyik membaca sebuah novel sastra.

Tuh, sayang banget kan kalau fasilitas yang sudah tersedia hanya disia-siakan? Padahal perpustakaan SMAN 2 ini dilengkapi dengan ruang audiovisual dan dua buah komputer yang siap dipakai dipakai untuk berselancar di dunia “Hari-hari tertentu, perpustakaan ramai juga. Biasanya sih kalau guru bidang studi yang bersangkutan mengajak anak-anak untuk datang. Memang jumlah yang datang tiap harinya enggak banyak, tapi termasuk lumayan untuk sebuah perpustakaan sekolah,” ucap Pak Eman lagi.

Strategi yang diterapkan di SMAN 2 dan SMP-SMAK Yahya sebenarnya memang sudah tepat. Kerjasama para pustakawan dan guru untuk mengajak murid datang ke perpustakaan, membuat tingkat literasi, kemampuan membaca, belajar, memecahkan masalah, serta keterampilan teknologi informasi dan komunikasi menjadi lebih tinggi. “Pelajaran yang paling sering membuat kami datang ke perpustakaan tuh pelajaran sosial. Biasanya kami presentasi dan nyari bahan untuk tugas-tugas,” cerita Gabby, Fanny, Novi, dan Fatimah yang ditemui belia di perpustakaan SMAN 2.

Sama seperti di SMAN 2, perpustakaan di SMP-SMA Mutiara Bunda yang terletak di kawasan Arcamanik Bandung juga menyediakan koleksi buku yang menyenangkan untuk murid-muridnya. “Karena di sekolah ini memakai sistem KBK bilingual, perpustakaan pun buku-bukunya terdiri dari 80% buku berbahasa Inggris dan 20%-nya bahasa Indonesia. Sedangkan untuk jenisnya ada ensiklopedia, novel fiksi berbahasa Inggris, buku-buku agama, psikologi praktis, dan film-film dari beragam genre,” kata Bu Nayla yang bertugas menjaga perpustakaan di sini. Hmm, pantes aja temen-temen di sekolah ini pada betah nongkrong di perpustakaan. Ditemani berbagai koleksi buku dari Puffin books, koleksi Alfred Hitchcock, C.S. Lewis, dan masih banyak lagi, tentunya bakal menahan Belia untuk cepat-cepat pergi dari sini.

Faktor kenyamanan dan kelengkapan koleksi yang ada di perpustakaan menurut temen-temen yang sempat ditemui belia di beberapa sekolah adalah modal penting yang harus dimiliki perpustakaan. “Gimana mau dateng ke perpustakaan kalau penjaganya galak, koleksinya tua dan enggak pernah di-up date,” ucap Riska yang bersekolah di sebuah sekolah negeri di kawasan Soekarno-Hatta. Idealnya, perpustakaan sekolah berisi buku pendamping. Buku juga harus lebih spesifik, yakni yang dibutuhkan siswa untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar. Sekolah enggak perlu ragu pula untuk menarik minat siswa datang ke perpustakaan dengan menyediakan buku fiksi, komik, dan cerita rakyat yang bermuatan nilai positif.

Kru belia sempat bikin survei kecil yang diikuti oleh 50 responden dengan pertanyaan apa yang membuat mereka betah berada di perpustakaan. Sebanyak 23 orang menjawab koleksi bukunya lah yang bikin mereka dateng ke perpustakaan, 17 orang menjawab kalau tempat beserta interiornya, sedangkan sisanya, 10 orang bilang kalau mereka betah ke perpustakaan kalau diberi tugas oleh bapak dan ibu guru. “Waktu masih sekolah sih lumayan sering dateng ke perpustakaan untuk minjem buku atau ngerjain makalah dan tugas. Lagian di sekolah perpustakaannya udah enggak ngebosenin, karena udah ada novel-novel, majalah-majalah, sama koran. Jadi, kalau punya rencana nonton sepulang sekolah, saya tinggal ke perpustakaan aja untuk liat jadwal bioskop, hehh,” ungkap Bella, Belia kelas XII SMAN 2 Bandung.

Komik dan novel emang jadi salah satu daya tarik perpustakaan. Tapi, kalau di Yahya, setiap siswa yang pengen baca novel atau komik, mereka diwajibkan untuk membayar. Sistemnya kayak di satu tempat penyewaan buku di kawasan Dago. “Kami sengaja menarik bayaran untuk siswa yang mau baca novel dan komik. Sebenernya tujuannya hanya untuk membatasi mereka membaca jenis fiksi. Kalau untuk jenis lainnya sih bebas aja,” jelas Bu Endah. Sip banget tuh aturannya.

Banyak banget keuntungan yang bisa didapatkan dari perpustakaan. Enggak hanya bisa dapet ilmu secara gratis, tapi juga berbagai hal lain seperti menumbuhkan minat terhadap literasi, dan kedisiplinan. Karena tanpa kedispilinan dari para anggota dan pengunjungnya, mustahil kalau satu perpustakaan bisa punya koleksi luar biasa. Yuk, mari kita jaga perpustakaan sekolah, biar si perpustakaan ini bisa berkembang keara yang jauh lebih baik lagi. ***

tisha_belia@yahoo.com

(Sumber : Pikiran Rakyat)

4 thoughts on “Perpustakaan Sekolah

  1. I every time emailed this webpage post page to all my contacts, as if like to read
    it then my contacts will too.

  2. I don’t even know how I ended up here, but I thought this post was
    great. I don’t know who you are but certainly you are going to a famous blogger
    if you are not already😉 Cheers!

  3. Hello there I am so happy I found your weblog, I really
    found you by error, while I was browsing on Aol for something
    else, Nonetheless I am here now and would just like to say cheers for a fantastic post and a all round thrilling blog
    (I also love the theme/design), I don’t have time to
    go through it all at the moment but I have book-marked
    it and also added your RSS feeds, so when I have time I will be back to read more,
    Please do keep up the awesome b.

  4. Bener bgt coy..jdkn perpst g lg t4 yg ngBTin

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s