Lemburkuring2007

Sebelas Nelayan Hilang Diserang “Badai Rakit”

Tunda talatah

Sebelas Nelayan Hilang Diserang “Badai Rakit”

udi

 
 
DUA dari 11 orang ABK Kapal Motor Jaya Baru 3, warga Desa Dadap, Kec. Juntinyuat, Kab. Indramayu yang selamat dari hantaman badai di perairan laut utara Jawa dekat perairan Pulau Biawak, Kab. Indramayu, Sabtu (26/5).
 
 

INDRAMAYU, (GM).-
Gelombang setinggi 7 meter, Sabtu (26/5) sekira pukul 23.00 WIB menghantam Kapal Motor (KM) Jaya Baru 3 berpenumpang 13 orang nelayan di perairan Laut Jawa di Kepulauan Rakit, Kab. Indramayu. Akibat “badai rakit” tersebut, sebelas nelayan warga Desa Dadap, Kec. Juntinyuat, hilang, sementara 2 nelayan lainnya selamat.

Badai yang muncul mendadak itu sebelumnya menggulung perahu berbobot mati 30 grosston (GT) hingga pecah dan tenggelam. Dalam kecelakaan laut itu, dua nelayan yang selamat, Mulyana (22) dan Dori (24), warga Blok Dadap Lama, Desa Dadap. Keduanya ditolong perahu nelayan asal Kab. Subang dan didaratkan secara darurat di Pelabuhan Trungtum Pamanukan.

Sedangkan sebelas nelayan yang hilang, di antaranya Casudi (33), Tarno (24), Sunanto (20), Udi Saidi (21), Ranin (36), Daudi (22), Udi Tapo (28), Ujang (29), Muridi (40), dan Wardi (20). Sampai Minggu (27/5) petang, belum ada kejelasan nasib sebelas nelayan yang hilang itu.

“Kami sudah memberitahu dan meminta seluruh kapal yang melintas di Laut Jawa sekitar Kepulauan Rakit untuk menolong para nelayan itu. Seluruh pelabuhan di Laut Jawa juga kami beri informasi musibah tersebut,” kata Perwira Kantor Pelabuhan Indramayu, Iwan Purbo.

Informasi yang diperoleh “GM” menyebutkan, adanya badai di Kepulauan Rakit dekat Pulau Biawak itu di luar dugaan para nelayan. Sebab ketika KM Jaya Baru 3 yang berawak 13 nelayan berangkat menuju perairan Kalimantan, Sabtu (26/5) malam, laut dalam keadaan landai, gelombang dan angin normal.

Nelayan yang selamat, Mulyana menuturkan, sekira pukul 23.00 WIB, badai tiba-tiba datang mengepung perahu. Saat terjebak badai, gelombang berketinggian tujuh meter mengombang-ambingkan kapal.

Karena kekuatan sangat besar, kapal motor tergulung hingga lambung kanan bagian mesin pecah. Para nelayan berjuang sekuat tenaga memperbaiki bagian yang pecah dan bocor itu.

“Saat lagi memperbaiki, air laut masuk dari mana-mana, kami terjun ke laut agar tidak ikut tenggelam bersama perahu,” tutur Mulyana yang selamat karena tersangkut jaring milik nelayan lain.

Terpisah gelombang

Mulyana dan Dori menuturkan, saat itu laut sangat gelap. Mereka sempat saling mencari, hanya saja gelombang terlalu besar hingga memisahkan para nelayan tersebut.

“Saya pegangan pada pelampung sampai ditolong nelayan Subang. Setelah badai reda, kecuali Mulyana saya tidak menemukan yang lain. Para nelayan asal Subang sempat mencari, tapi tidak menemukan,” tutur Dori.

Petugas Pelabuhan Dadap, Haryono menuturkan, pihaknya sebenarnya sudah mengeluarkan peringatan kepada nelayan. Hanya saja, mungkin karena melihat laut landai, mereka terdorong untuk melaut. “Sabtu malam laut memang terlihat landai, itu mendorong nelayan berlayar. Siapa yang tahu kalau muncul badai secara mendadak,” katanya.

Samid (55), ayah Mulyana menuturkan, malam itu dia juga ikut berlayar, hanya dengan perahu lain. Begitu melihat ada badai, perahu langsung berbalik arah dan mendarat lagi di Pelabuhan Dadap. “Rombongan saya sempat melihat ada badai di dekat Pulau Biawak. Kami akhirnya memutuskan mendarat kembali. Saya tidak tahu kalau ternyata perahu anak saya terjebak dan tenggelam,” ujarnya. (A.93/udi)**

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s