Lemburkuring2007

Sejarah Desa Wano

4 Pairan

Desa Wano

SEKIRA tahun 1800 Masehi, di Desa Wano, Kecamatan Japara, Kabupaten Kuningan, sudah ada perkampungan yang dikenal Desa Tarikolot. Tarikolot berasal dari kata Tarik dan Kolot, sebuah ungakapan bahasa sunda katarik ku kolot. Memang, dulunya masarakat setempat setempat tidak lama menetap atau tinggal di daerah tersebut, karena secara berangsur pindah ke daerah lain ikut bersama orang tuanya (kolot).

Mengapa demikian? Sebab pada saat itu keadaan di Desa Tarikolot boleh dibilang tidak aman. Pasalnya, nyaris setiap hari perampok memasuki perkampungan, sehingga banyak warga yang memilih untuk pindah ke daerah lain, diantaranya saja ke Desa Singkup yang kini masih wilayah Kecamatan Japara.

Setelah keadaan Desa Tarikolot diangap aman, tak lama kemudian, Tarikolot berubah nama menjadi Desa Wano. Desa Wano sendiri, berasal dari kata Wana, yang artinya hutan. Memang, perkampungan merupakan hutan belantara. Bahkan, sampai sekarang pun keadaan lingkungan Desa Wano masih memerlihatkan keasliannya yakni merupakan desa yang di sekitarnya hutan. Ratusan bahkan ribuan pohon, diantaranya ada yang usianya ratusan tahun, menjadi pemandangan khas Desa Wano.

Kendati tidak diketahui secara pasti, siapa saja yang telah menjadi pucuk pimpinan di Desa Wano, namun yang jelas desa yang luas wilayahnya 109.09 hektar, dengan penduduk 700 jiwa (178 KK), sudah dipimpin oleh lebih dari 12 orang Kuwu dengan masa jabatan yang cukup lama.

Udin Samsudin, mungkin termasuk Kuwu yang ke 12 di Desa Wano yang dipilih masyarakatnya pada 5 Juni 2002. Ada catatan khusus saat mengawali kepemimpinan Kuwu Udin Samsudin. Sebelum dan sesudah dia terpilih, banyak warga yang datang ke rumahnya untuk menyatakan dukungan dan ucapan selamat. Bukan hanya itu, sebab ternyata banyak warga terutama sesepuh desa, yang mengingatkan agar Kuwu Udin tidak membawa cangkul dengan cara dipikul, karena itu merupakan tabu bagi seorang Kuwu Desa Wano.

Memang, sejak dulu dianggap tabu bagi orang yang memegang jabatan kuwu di Desa Wano. Karena dianggap tabu, sampai saat ini tidak ada seorang pun Kuwu Wano yang melanggar ketentuan yang tidak tertulis itu. Hal itu dipercaya masyarakat, bila ketentuan diabaikan dikhawatirkan akan terjadi malapetaka seperti banyak orang meninggal atau bencana lainnya.

Tak ada seorang pun yang tahu persis mengapa hal itu dianggap tabu, namun berdasarkan cerita masyarakat setempat Dulu, pada masa pemeritahan Kuwu pertama di Desa Wano banyak warga yang meninggal. Dalam waktu seminggu, warga yang meninggal tak kurang dari delapan orang. Anehnya, kejadian itu berlangsung setelah warga melihat Kuwu-nya membawa pacul dengan cara dipikul. Sejak itulah berlaku tabu. *

4 thoughts on “Sejarah Desa Wano

  1. ngirngan nga reu reah ah,,,,,salam sejahtara bagi semua masarakat desa wano tercinta moga sellau ada dalam keberkahan dan lindungan allah swt,,,mari rapatkan barisan untuk kemajuan desa kita tercinta,,saya pribadi kangen sekalai dengan suasana di kampung wano yg indah ,,masa masa kecil yg indah,,,semoga desa kita mendapatkan sosok peminpin desa kita yg produktip buat kemajaun desa kita tercinta ,,,bisa maju dalam segala bidang

  2. Wano desa yang begitu indah, indah karena ada keunikan geografi yang naik turun, indah karena sesama warga masih terbina saling asah dan saling asih layaknya sebuah desa.
    walaupun desa ini berada tidak dekat dengan perkotaan tapi bagi saya yang dilahirkan di desa ini sangat mencintainya, banyak harapan dan mimpi dimana wano akan menjadi desa yang masyarakatnya lebih sejahtera, akses teknologi dimasa mendatang smoga lebih mudah, mari kita sama-sama bangun desa kita cintai menjadi desa yang aman, makmur dan Islami, amiin

  3. Ngiringan ahh…tepangkeun abdi putra daerah asli ti wano…teu lami deui dina tahun 2010 sasih Mei desa Wano kuwuna bade liren margi tos waktosna…duka tah saha anu bade ngagentosna…mugia anu bade janten pamingpin nyaeta anu tiasa ngamajukeun desa wano sapertos Bapak U.Syamsudin…abdi mah nyebatna oge Abah Kuwu ka anjeuna margi da sanes saha-saha kangge abdi…anjeuna mah disebatna oge jalmi anu “DAEKAN” maksadna teu pilih kasih ka masyarakat…teu aya nami hujan teu aya nami panas anjeuna mah dina “MELAYANI MASYARAKAT” Jempol lah kangge Abah Kuwu mah…

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s