Lemburkuring2007

Paraji

Tunda talatah

Utamakan Keselamatan Ibu Bersalin

KETIKA diminta untuk difoto, Ma Runte (100), tampak sedikit kaget.”Ema mah tong dipotret, sabab henteu boga duit,” (Ema jangan difoto, sebab tidak punya.uang.” kata Ma Runte, yang saat itu tengah membersihkan pohon ketela pohon untuk kayu bakar, di halaman rumahnya, beberapa waktu lalu. Namun, setelah dia tahu bahwa foto itu untuk keperluan di koran, akhirnya Ma Runte mau juga dan dia pun mau menceritakan sedikit tentang kisah hidupnya.

Ma Runte, mungkin nama yang cukup dikenal masyarakat di Desa Tembong, Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan. Mengapa tidak, sudah puluhan tahun mendapat kepercayaan untuk menolong ibu hamil yang hendak melahirkan, yang akrab dengan sebutan Ema Paraji. “Saleresna umur Ema teh geus kolot, namung da geuning seueur keneh nu bade babaran hoyong diparajian ku Ema, (Sebenarnya usia Ema sudah tua, tapi masih banyak yang mau melahirkan yang membutuhkan bantuan Ema,” kata Ma Runte, di rumahnya beberapa waktu lalu.

Menurut dia, menolong ibu hamil yang hendak melahirkan, dimulainya sejak tahun 1970-an, setelah neneknya, Embah Lipur, yang juga seorang paraji di Desa Tembong, meninggal dunia maka dialah yang meneruskan tugas neneknya tersebut. Mungkin, sudah ratusan orang ibu hamil yang hendak melahirkan di desa itu yang ditolong oleh Ma Runte, namun sebagai orang yang mendapat predikat Indung beurang, tak pernah mengeluh kapan pun warga membutuhkan pertolongan, Mak Runte tak pernah menolak, asalkan pihak yang membutuhkan mau menjemput dan selanjutnya mengantarkannya ke rumah setelah proses kelahiran selesai. “Atuda bade kumaha, kapan tos janten kawajiban Ema, mung nya kitu kusabab geus kolot mah sok ngatog lamun leumpang peuting teh,”(maklum sudah tua, kalau berjalan malam hari mata Ema tidak jelas” kata Ma Runte, memberi alasan.

Sebenarnya, Ma Runte sudah ingin melepaskan tugasnya sebagi paraji, selain mengingat usianya yang semakin tua, juga kini telah ada bidan desa. Namun, ketika dia menyarankan agar proses persalinan dengan melibatkan bidan desa, terkadang warga yang hendak melahirkan ingin ditolong olehnya. Kalau sudah begitu, mak Runte tak bisa menolak, “nya, upami ibu bidan ngurus orok, atuh ema ngurus indungna, margi ti kapungkur oge Ema mah tos biasa ngutamakeun heula kasalametan indungna, batan anakna margi ibu nu ngalahirkeun teh pinuh risiko, (ya, kalau ibu bidan yang mengurus bayi, ema mengurus ibunya, sebab dari dulu juga ema sudah terbiasa mendahulukan keselamatan ibunya daripada bayi yang lahir, sebab ibu melahirkan penuh risiko,” kata Mak Runte, yang mengaku pada tahun 1985 menerima bantuan peralatan untuk proses persalinan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan itu. *



.

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s