//
archives

PANGAWERUH UMUM

This category contains 4 posts

Puisi dari seseorang untuk seseorang.


 
Aku mengerti bahwa kamu bukan untuk kehidupanku saat ini
Tapi mengertikah kamu, berpisah denganmu telah membuat hatiku terluka
Aku tidak akan berharap lagi suatu saat kamu jadi milikku
Aku mengerti akan kehidupan barumu disana, dan akan kubiarkan
Hanya akan menjadi kenangan bagaikan lukisanmu tertancap dalam hatiku
Kamu telah melangkah jauh dari kehidupanku seperti nyanyian malam dalam hutan
Tapi mengertikah kamu, kebaikanmu saat itu seperti lautan biru tertidur menyejukan
Dan Aku mengerti, sekarang aku sudah tidak merasa perih lagi

 

 

Baraya, Info ti daerah tiasa disungsi di tatar-kuningan.com. Simkuring ngantos Kritik, saran, tanggapan & dukunganana. Seratan-seratan tiasa via email lemburkuring2007@yahoo.com. Ke ku simkuring dipostingkeun di tatar-kuningan.com. Hatur Nuhun.   

 


Sunan Gunung Jati


masjid.jpg
Pintu Masuk Masjid Sang Cipta Rasa

Kasultanan Kasepuhan Cirebon


Riwayat Singkat Syech Sarif Hidayatullah

(Sunan Gunung Jati)

Oleh : Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat, SE

Syech Syarief Hidayatulloh dilahirkan Tahun 1448 Masehi. Ayahanda Syech Syarief Hidayatulloh adalah Syarief Abdullah, seorang dari Mesir keturunan ke 17 Rosulullah SAW, bergelar Sultan Maulana Muhamad, Ibunda Syech Syarief Hidayatullah adalah Nyai Rara Santang dan setelah masuk Islam berganti nama menjadi Syarifah Muda’im adalah Putri Prabu Siliwangi dari kerajaan Padjajaran.

Syech Syarief Hidayatullah berkelana untuk belajar Agama Islam dan sampai di Cirebon pada tahun 1470 Masehi.

Syech Syarief Hidayatullah dengan didukung uwanya, Tumenggung Cerbon Sri Manggana Cakrabuana alias Pangeran Walangsungsang dan didukung Kerajaan Demak, dinobatkan menjadi Raja Cerbon dengan gelar Maulana Jati pada tahun 1479.

Sejak itu pembangunan insfrastruktur Kerajaan Cirebon kemudian dibangun dengan dibantu oleh Sunan Kalijaga, Arsitek Demak Raden Sepat, yaitu Pembangunan Keraton Pakungwati, Masjid Agung Sang Cipta Rasa, jalan pinggir laut antara Keraajaan Pakungwati dan Amparan Jati serta Pelabuhan Muara Jati.

Syech Maulana Jati pada Tahun 1526 Masehi, menyebarkan Islam sampai Banten dan menjadikannya Daerah Kerajaan Cirebon. Dan pada Tahun 1526 Masehi juga tentara Kerajaan Cirebon dibantu oleh Kerajaan Demak dipimpin oleh Panglima Perang bernama Fatahillah merebut Sunda Kelapa dan Portugis, dan diberi nama baru yaitu Jayakarta.

Pada tahun 1533 Masehi, Banten menjadi Kasultanan Banten dengan Sultannya adalah Putra dari Syech Maulana Jati yaitu Sultan Hasanuddin.

Syech Maulana Jati salah seorang Wali Sanga yang mempekenalkan visi baru bagi masyarakat tentang apa arti menjadi Pemimpin, apa makna Masyarakatm, apa Tujuan, Masyarakat, bagaimana seharusnya berkiprah di dalam dunia ini lewat Proses Pemberdyaan.

Syech Maulan Jati melakukan tugas dakwah menyebarkan Agama Islam ke berbagai lapisan Masyarakat dengan dukungan personel dan dukungan aspek organisasi kelompok Forum Walisanga, dimana forum Walisanga secara efektif dijadikan sebagai organisasi dan alat kepentingan dakwah, merupakan siasat yang tepat untuk mempercepat teresebarnya Agama Islam.

Syech Maulana Jati berpulang ke Rahmatullah pada tanggal 26 Rayagung tahun 891 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 1568 Masehi.

Tanggal Jawanya adalah 11 Krisnapaksa bulan Badramasa tahun 1491 Saka.

Meninggal dalam usia 120 tahun, sehingga Putra dan Cucunya tidak sempat memimpin Cirebon karena meninggal terlebih dahulu. Sehingga cicitnya yang memimpin setelah Syech Maulana Jati.

Syech Syarief Hidayatullah kemudian dikenal dengan Sunan Gunung Jati karena dimakamkan di Bukit Gunung Jati.

Sunan Gunung Jati banyak meninggalkan ipat-ipat atau nasehat, diantaranya adalah “INGSUN TITIP TAJUG LAN FAKIR MISKIN”.

Sumber : Keraton Kasepuhan Cirebon

Eyang Hasan Maolani


“>”Eyang Menado” dari Kuningan
Oleh Prof. Dr. NINA H. LUBIS, M.S.

HINGGA 2006, jumlah pahlawan nasional bangsa Indonesia baru 136 orang. Hanya delapan orang yang berasal dari kalangan ulama, 2 orang di antaranya berasal dari Jawa Barat, yaitu K.H. Zaenal Mustofa dari Singaparna (Kabupaten Tasikmalaya), dan K.H. Noer Alie dari Kabupaten Bekasi.

Apakah ini berarti ulama kurang berperan dalam perjuangan meraih kemerdekaan? Agaknya bukan itu penyebabnya, namun peran para ulama, para kiai belum banyak digali para peneliti. Di Jawa Barat, ada banyak kiai, ulama yang berjuang sejak abad ke-19 hingga masa perang kemerdekaan

Dalam menghadapi pengaruh penetrasi Barat satu-satunya jalan yang dapat ditempuh adalah melakukan gerakan sosial sebagai bentuk protes sosial. Demikian juga yang terjadi di berbagai tempat di Tatar Sunda, termasuk di Kabupaten Kuningan. Gerakan sosial yang terjadi di daerah ini dilakukan oleh Kiai Haji Hasan Maolani (1779-1874) dari Desa Lengkong. Masyarakat mengenalnya sebagai “Eyang Menado” karena ia diasingkan ke Menado (meskipun sesungguhnya diasingkan ke Tondano, sebelah selatan Menado), selama 32 tahun hingga meninggal dunia di sana.

Sumber-sumber yang memberitakan adanya gerakan ini sangat terbatas. Pertama sekali dilaporkan dalam Laporan Politik Pemerintah Kolonial tahun 1839-1849 (Exhibitum, 31 Januari 1851, no. 27). Kemudian disebutkan pula dalam tulisan E. de Waal, yang berjudul Onze Indische Financien, 1876, secara sangat singkat. Selanjutnya, diuraikan cukup panjang, dalam disertasi D.W.J. Drewes, yang berjudul Drie Javaansche Goeroe’s (1925).

Baru tahun 1975 A. Tisnawerdaya, menulis biografi ringkas Kiai Hasan Maolani. Hingga sekarang masih ada peninggalan K.H. Hasan Maolani, berupa bangunan rumah panggung berdinding anyaman bambu dan benda-benda milik pribadi. Selain itu, masih ada tinggalan berupa naskah yang ditulis di atas kertas dengan tinta hitam dan merah. Naskah berjudul Fathul Qorib, ini ditulis dalam huruf Arab pegon, berbahasa Jawa campur Sunda. Peninggalan berharga lainnya adalah kumpulan surat-surat yang dikirim Kiai Hasan dari pengasingannya.

Silsilah

K.H. Hasan Maolani dilahirkan pada 1199 Hijriah atau 1779 Masehi di Desa Lengkong, sekarang termasuk Kecamatan Garawangi Kabupaten Kuningan. Menurut silsilahnya, Kiai Hasan Maolani, memiliki leluhur hingga kepada Sunan Gunung Jati. Ketika Hasan Maolani dilahirkan, Panembahan Dako, seorang kiai yang makamnya banyak diziarahi orang karena kekeramatannya, mengatakan bahwa anak ini benar-benar cakap dan memiliki “bulu kenabian”. Maksudnya, memiliki tanda-tanda akan menjadi ulama. Sejak kecil anak ini dikenal memiliki sifat-sifat yang baik. Hatinya lembut berbudi luhur, sayang kepada sesama makhluk, termasuk binatang. Sejak kecil, Hasan Maolani suka menyepi (uzlah) di tempat-tempat yang jarang dikunjungi orang, setelah dewasa ia sering menyepi di Gunung Ciremai.

Hasan mula-mula menimba ilmu di Pesantren Embah Padang. Setelah itu, ia menimba ilmu di Pesantren Kedung Rajagaluh (Majalengka) dan Pesantren Ciwaringin, Cirebon. Selain itu, Hasan masih belajar lagi di beberapa pesantren lain. Setelah dewasa, Hasan Maolani, belajar tarekat: Satariyah, Qodariyah, Naksabandiyah, dst. Namun, akhirnya Hasan Maolani menganut tarekat Satariyah. Sekembali dari berguru di beberapa pesantren, Hasan Maolani kembali ke desa asalnya di Lengkong dan membuka pesantren.

Kiai keramat

Sejak ia membuka pesantren, berduyun-duyun orang yang datang ingin menjadi santrinya. Jumlah santri yang mondok cukup banyak hingga 40 pondok yang disediakan tidak mampu menampungnya. Selain itu, makin hari makin banyak orang datang kepada K.H. Hasan Maolani untuk berbagai keperluan, mulai dari berobat hingga meminta tolong untuk menyelesaikan berbagai persoalan hidup. Tentu saja, adanya orang berkumpul setiap hari, dalam jumlah banyak mengundang kecurigaan pemerintah kolonial, yang baru saja usai menghadapi Perang Diponegoro (1825-1830).

Salah satu ajaran Kiai Hasan Maolani, yang penting dan dianggap membahayakan pemerintah kolonial adalah tentang “jihad”. Ajaran yang ditulisnya dalam Fathul Qorib demikian: “Jika sekiranya para orang kafir memasuki negeri Muslimin atau mereka bertempat yang dekat letaknya dengan negeri orang Islam, maka dalam keadaan yang demikian itu hukum jihad adalah fardlu ain bagi kaum Muslimin. Wajib bagi ahli negeri itu untuk menolak (menghalau) para orang kafir dengan sesuatu yang dapat dipergunakan oleh kaum Muslimin untuk menolak.”

Jelas, bahwa Kiai Hasan Maolani memiliki kesadaran bahwa negerinya sedang dijajah. Kesadaran ini disampaikan kepada masyarakat, yang datang maupun yang jauh melalui surat-suratnya. Perang Diponegoro menyisakan pelajaran bagi pemerintah kolonial untuk segera meredam ajaran-ajaran yang dianggap membangkitkan kesadaran rakyat untuk menentang orang kafir (dalam hal ini pemerintah jajahan). Itulah sebabnya, pemerintah kolonial melalui kaki tangannya di Kabupaten Kuningan segera melancarkan tudingan bahwa Kiai Hasan Maolani dituduh menyebarkan ajaran yang tidak sesuai dengan syariah, menghasut rakyat untuk melakukan perlawanan.

Padahal, ajaran-ajarannya seperti yang disebutkan di atas, tidak ada yang tidak sesuai dengan syariah. Dalam hal ini, kita bisa menduga apa motif pemerintah kolonial dalam melancarkan tuduhan kepada Kiai Hasan, tidak lain hanya untuk menjatuhkan nama Kiai Hasan di mata masyarakat pribumi dan mencari-cari kesalahannya.

Residen Priangan setelah mendapat informasi mengenai surat edaran dan akibat yang ditimbulkannya, segera mengirim surat kepada Gubernur Jenderal di Batavia, menyampaikan usul agar kerusuhan itu harus diselidiki di Lengkong, Kabupaten Kuningan (Cirebon).

Pengaruh Kiai Hasan Maolani semakin mendalam di kalangan penduduk, bahkan sampai merembet kepada para pemimpin pribumi. Hal ini dijadikan alasan oleh residen untuk menangkap Kiai Hasan. Residen Priangan menulis surat ke Batavia yang menyatakan bahwa rakyat lebih menghargai dan patuh kepada Kiai Hasan Maolani daripada kepada Bupati Kuningan. Residen juga melaporkan bahwa Kiai Hasan akan melawan “gubernemen” (pemerintah Hindia Belanda) dan ajarannya bertentangan dengan ajaran Islam.

Kiai Hasan Maolani yang sederhana itu dengan kata-katanya yang dibuat sedemikian rupa, hingga dipandang sebagai orang yang mempunyai kekuatan luar biasa dan dilebihkan dari keistimewaan ulama lainnya, sungguh membahayakan masyarakat serta mengganggu ketenteraman jika kepentingan kiai tersebut mendapat angin. Pada bagian akhir suratnya, Residen Priangan menulis kata-kata “Saya berharap bahwa Paduka Yang Mulia akan mendapat alasan, juga dengan laporan yang telah diberikan oleh para bupati. mengenai orang tersebut, untuk mengasingkan Kiai Lengkong dari Pulau Jawa.”

Diasingkan ke Tondano

Melihat gerakan Kiai Hasan Maolani, yang semakin hari dianggap semakin berbahaya, pemerintah kolonial akhirnya mengambil tindakan Kiai Hasan harus ditangkap. Dalam catatan keluarga, Kiai Hasan Maolani dibawa oleh petugas pemerintah kolonial, pada Hari Kamis, tanggal 12 Sapar 1257 H (1837 Masehi) waktu asar. Dikatakan bahwa kiai akan dibawa menghadap kepada Residen Cirebon untuk dimintai keterangan. Namun ternyata, Kiai Hasan tidak pernah kembali. Ia ditahan di Cirebon.

Ternyata setelah berada dalam tahanan di Cirebon, para murid, santri, dan masyarakat umum datang berduyun-duyun tiap hari menjenguk Kiai Hasan Maolani. Hal ini membuat pemerintah kolonial kewalahan. Oleh karena itu, diputuskanlah untuk memindahkan Kiai Hasan ke Batavia dengan diangkut kapal laut. Di Batavia, Kiai Hasan Maolani tetap saja mendapat kunjungan para murid dan santrinya dalam jumlah yang mengkhawatirkan. Oleh karena itu, setelah ditahan selama 9 bulan di Batavia, diambil tindakan lain: Dengan surat keputusan tanggal 6 Juni 1842, Kiai Hasan Maolani diasingkan ke Menado dengan status sebagai tahanan negara.

Kiai Hasan ternyata dibawa terlebih dahulu ke Ternate, dari sini kemudian dibawa ke Kaema. Seratus hari kemudian, ia dipindahkan ke Tondano. Di sini Kiai Hasan tinggal di Kampung Jawa bersama pasukan Kiai Mojo (panglima pasukan Diponegoro) yang diasingkan dari Jawa Tengah.

Pengasingan

Ternyata selama di pengasingan, Kiai Hasan Maolani tidak tinggal diam. Di Kampung Jawa, ia mengajar bekas pasukan Diponegoro yang ingin mendalami agama Islam. Lama-kelamaan, makin banyak muridnya, termasuk orang sekitar. Banyak orang yang tadinya non-Islam berhasil diislamkan. Akhirnya, Kiai Hasan membuka pesantren, yang dikenal sebagai “Pesantren Rama Kiai Lengkong”. Semakin lama namanya tambah terkenal bukan karena kekeramatannya, namun juga karena ajarannya yang mudah dimengerti. Kiai Hasan juga menaruh perhatian besar terhadap pengembangan pertanian dan perikanan sebagaimana dilakukannya di Desa Lengkong dahulu.

Putra kiai yang bernama Mohamad Hakim pernah mengajukan suatu permohonan kepada pemerintah agar ayahnya dikembalikan dari tempat pengasingannya. Namun, Residen Priangan yang dimintai pendapatnya tentang hal ini tetap berpegang pada pendiriannya. Ia tidak mau mengambil risiko dengan mengatakan bahwa seorang yang diasingkan belum tentu akan jera dengan hukuman yang ditimpakan kepadanya.

Kemudian keempat orang putranya kembali mengajukan permohonan kepada pemerintah pada bulan Desember 1868, yang isinya menyatakan bahwa ayah mereka yang sudah berusia 90 tahun itu supaya dikembalikan ke Jawa. Semua permintaan ini ditolak karena Kiai Hasan dianggap terlalu berbahaya meskipun sudah diasingkan, pengaruhnya masih terasa. Para murid, santri, dan rakyat tetap menjalankan anjuran-anjurannya baik dalam beribadah ritual maupun ibadah sosial.

Untuk ketiga kalinya, salah seorang putra Kiai Hasan Maolani mengajukan permohonan untuk menengok ayahnya di Menado. Semula Residen Cirebon menolak permohonan itu, tetapi setelah mendapat saran dari gubernur jenderal, barulah putra kiai yang bernama Kiai Absori diizinkan menengoknya ke Menado.

Pada tanggal 29 April 1874 Kiai Hasan Maolani meninggal dunia dan dimakamkan di Kompleks Pemakaman Kiai Mojo di Tondano. Kiai Hasan diasingkan begitu lama, namun namanya tetap melekat di hati rakyat Kuningan. Orang mengenangnya sebagai “Eyang Menado”. Makamnya banyak diziarahi orang, baik orang Kuningan maupun masyarakat setempat. Namun, yang perlu dilakukan sekarang adalah bagaimana kita memberikan penghargaan atas perjuangannya. Rasanya bukan hanya masyarakat Kuningan yang setuju agar K.H. Hasan Maolani diangkat sebagai pahlawan nasional. Semoga.***

Penulis, guru besar ilmu sejarah Universitas Padjadjaran Bandung.

Sumber : HU. Pikiran Rakyat

Haruskah Favorit?



“Nak, kamu harus masuk SMAN 3 atau SMAN 5 Bandung,” demikian ucapan ortu belia, beberapa tahun silam. Kala itu, belia baru aja beres menempuh Ebtanas tingkat SMP, dan akan meneruskan pendidikan ke sekolah menengah atas. Well, ternyata eh ternyata, bukan Jalan Bali atau Jalan Belitung yang menjadi kampus belia, melainkan SMAN 20 yang dijadikan tempat menimba ilmu di jenjang pendidikan menengah atas.
Tahu enggak apa komentar ortu belia?
“Enggak apa-apa deh, SMAN 20 lumayan bagus, masih negeri …”
Aduuuh, setelah dipikir-pikir lagi, kenapa juga ya ortu belia pengan banget kalo anaknya masuk sekolah favorit di Bandung? Logikanya, ortu pengen banget kalo anaknya ngedapetin semua hal yang paling baik, apalagi kalo ngomongin pendidikan. Wajar banget kalo ortu pengen anaknya masuk sekolah fave, biar jadi anak-anak yang palalinter dan tembus ke perguruan tinggi yang baik.

Coba Belia perhatiin grafik survey yang belia lakukan terhadap 50 orang pelajar SMP dan SMA di Kota Bandung. Lima puluh persen pada pengen masuk SMAN 3 Bandung, 24 persennya ke SMAN 5, dan sisanya sekolah lain.

Eh, bukannya yang nentuin prestasi siswa itu datengnya dari siswanya sendiri? Emang ngaruh gitu kalo seorang anak yang “enggak terlalu cerdas”, bersekolah di tempat favorit? Nantinya bakal jadi lebih “pinter” gitu?

Nah, pertanyaan-pertanyaan ini yang bakal berusaha belia jawab dalam tulisan ini.

Oke. Resminya, enggak ada tuh istilah sekolah favorit, dari level pendidikan apa pun, mulai dari TK sampe perguruan tinggi. Yang ngejadiin sebuah institusi pendidikan menjadi favorit, adalah penilaian dari masyarakat, bukan dari pemerintah (Dinas Pendidikan). At least, demikian yang disampein oleh Pak Abur M., staf kesiswaan Disdikprov Jabar.

“Disdik hanya mengategorikan sekolah unggul yang masuk ke dalam beberapa standar, seperti sekolah standar internasional dan sekolah mandiri,” kata Pak Abur. Sekolah yang termasuk “standar internasional” adalah sekolah yang telah memenuhi beberapa kategori yang telah ditentukan oleh Disdik, seperti standar prestasi, fasilitas, dan pengajaran. Yang masuk sekolah internasional di Bandung, adalah SMAN 3 Bandung dan SMA Krida Nusantara di Manglayang, Cibiru.

Menurut Pak Abur, pola pikir yang mengharuskan seorang anak untuk masuk sekolah favorit, sebenernya enggak sepenuhnya tepat. “Milih sekolah itu jangan semata-mata karena favorit, tapi juga harus yang sesuai dengan minat dan keinginan anak,” tambahnya.

Lebih jauh lagi, Pak Abur bilang, ada beberapa sekolah yang lebih asyik buat berkegiatan, ketimbang sekadar untuk belajar saja. Berkegiatan di sekolah, sebenernya juga merupakan hal yang penting banget, dan emang dibutuhin sebagai bekal seorang siswa. Hal-hal seperti inilah yang perlu ngedapetin perhatian dalam memilih sekolah, ketimbang cuma merhatiin tinggi rendahnya passing grade satu sekolah. “Emang bener juga, kebanyakan sekolah favorit emang punya kualitas pendidikan yang bagus. Hanya saja sekolah kan enggak belajar kognitif saja. Perlu juga menggali potensi psikomotorik dan kemampuan sosial siswa lewat organisasi dan kegiatan lainnya,” kata Pak Abur. Hal lain juga perlu diperhatiin, selain yang udah disampein di antaranya adalah kualitas lingkungan sekolah dan fasilitas penunjang pendidikannya.

Kalo dari survei yang belia lakukan, bisa dilihat di grafik kalo pelajar ngerasa prestasi dan fasilitaslah yang nentuin sebuah skul jadi favorit atau enggak.

Terlepas dari minat siswa, pola pikir buat masuk SMA favorit emang lumrah banget. Ada anggepan di masyarakat yang menilai, kalo masuk sekolah favorit nantinya bisa meneruskan ke sekolah favorit juga. Misalnya dari SMA favorit, dianggap akan punya peluang yang lebih baik untuk masuk perguruan tinggi negeri yang oke. Kalo emang karena ini menjadi alesan untuk memilih sekolah favorit, Psikolog Azhar Elhami merasa pandangan ini sah-sah aja. “Tapi, jangan sampe memilih sekolah favorit itu semata-mata karena gengsi. Harus disesuaikan dengan minat dan potensi anak,” kata Dosen Psikologi Unpad ini.

Masa remaja, emang adalah masa di mana kemampuan sosial Belia lagi berkembang. Kerasa enggak kalo kita pengennya sama temen-temen melulu? Emang dalam psikologi juga dijelasin kalo pada masa remaja, Belia bakalan banyak banget tergantung dan terpengaruh sama temen-temennya. “Nah, kalo temen-temennya pada demen belajar, praktis seorang remaja akan terangsang juga untuk belajar. Mungkin hal ini juga yang mendasari pemikiran kalo bersekolah di sekolah favorit akan mampu ngedongkrak prestasi siswa,” papar Kang Azhar panjang lebar.

Lain lagi pendapat Pak Iwan Hermawan. Guru SMAN 9 Bandung ini nganggep ada beberapa hal yang nentuin sebuah sekolah itu favorit atau enggak. “Yang pertama prestise (gengsi), lalu prestasi, sejarah, dan terakhir penilaian dari masyarakat,” jelas Pak Iwan. Yang dimaksud prestise adalah bergengsi atau tidaknya sebuah sekolah yang dimasuki, Kalo prestasi udah jelas banget, tolok ukurnya juga banyak, bisa dari prestasi akademik dan non-akademik, bisa juga dari output siswanya, pada tembus perguruan tinggi yang “bagus” atau enggak. Lalu, kalo nilai historis, mengambil contoh SMAN 3 Bandung, sekolah ini punya sejarah mencetak banyak orang yang sukses dan dianggap sekolah yang bagus secara turun-temurun. “Makanya secara historis, SMAN 3 Bandung, adalah sekolah favorit,” kata Pak Iwan menyimpulkan. Dari ketiga faktor tadi, akan muncul penilaian masyarakat yang menentukan kelayakan sebuah sekolah menjadi “favorit”.

Secara pribadi, Pak Iwan kurang setuju dengan “konsep sekolah favorit” ini. Semua anak yang berprestasi, tentunya pengennya masuk sekolah favorit, begitu juga ortunya. “Persebaran siswa berprestasi menjadi tidak merata, hanya beberapa sekolah favorit aja yang punya prestasi yang mencolok,” demikian jelas Pak Iwan.

Yep, emang lucu juga ya. Sebagian besar siswa yang oke, kan pada memilih buat belajar di sekolah tertentu aja. Nah, gimana nasibnya dengan sekolah-sekolah lain di “pinggiran” yang enggak masuk kategori favorit? Makanya Pak Iwan sangat mendukung gagasan rayonisasi sekolah dalam sistem pendidikan kita. “Biar persebaran prestasi menjadi merata, udah gitu siswa hanya perlu bersekolah di lokasi yang deket tempat tinggalnya,” begitu katanya.

Swasta atau SMK?

Sekolah swasta, sebenernya enggak kalah keren dengan sekolah negeri. Bahkan, banyak sekolah swasta yang didukung dengan infrastruktur dan fasilitas pendidikan yang lebih oke dibandingin kebanyakan sekolah negeri. Namun, masuk ke skul swasta, bagi beberapa pelajar menjadi hal yang sangat mewah jika dilihat dari biaya pendidikannya.

Pemerintah sendiri, sekarang sedang menggenjot jumlah peminat sekolah menengah kejuruan. SMK adalah alternatif pilihan sekolah lanjutan tingkat atas yang patut dipertimbangkan. Pak Abur menyatakan, Disdik mendukung program dibangunnya SMK-SMK baru untuk melahirkan tenaga kerja siap pakai. “SMK adalah alternatif yang sangat baik, jika pelajar emang membutuhkan skill tertentu yang memungkinkan lulusan SMK untuk langsung terjun bekerja,” kata Pak Abur.

Disdik juga masih terus berjuang untuk mengubah pola pikir masyarakat yang masih menilai kalo SMK adalah sekolah “buangan”, kelompok marginal dalam institusi pendidikan lanjutan.

Well, tenang aja Pak Abur. Dari hasil survei yang belia dapet, udah lumayan banyak siswa yang kepikiran buat masuk SMK, kok. Kamu juga bisa ngeliat sendiri grafiknya.

Haruskah favorit?

Itu emang pertanyaan pamungkas yang gampang-gampang susah buat dijawab. Dan dengan berat hati belia kudu bilang, kalo jawabannya relatif banget. Tergantung kondisinya. Anggepan kalo sekolah favorit itu ideal untuk mendulang prestasi emang enggak salah-salah amat. Logikanya, kalo belajar dalam lingkungan yang merangsang prestasi, kegiatan belajar akan lebih mudah dilakukan.

Tapi, jangan salah, belajar itu enggak hanya ngedapetin rangking satu lho! Kamu perlu juga tahu gimana caranya bikin pensi yang bagus, berorganisasi dengan temen-temen lain di OSIS, dan juga berprestasi di bidang olah raga. Mengutip ucapan Pak Abur, “Sekolah di mana pun aja oke. Pola pembelajarannya pasti tetep baik berdasarkan kurikulum yang standar.” Seolah melengkapi, Pak Iwan juga bilang, “Yang ngejadiin seorang siswa itu berprestasi dan mengilap, bukanlah guru atau sekolahnya, melainkan siswanya sendiri. Meskipun dia adalah pelajar sekolah nonfavorit, jika dia memang siswa yang menonjol dan istimewa, dia akan tetep bisa berprestasi,” tegasnya.
Yep. Bukan sekolah yang nentuin kualitas siswa. Tapi, siswanya sendiri.***

Sumber : BELIA/HU. Pikiran Rakyat

syauqy_belia@yahoo.co.uk

 
 

Katagori

%d bloggers like this: