MARTADINATA, (GM).-
Dari 6.000 koleksi Museum Sri Baduga Maharaja Jawa Barat, 40% di antaranya merupakan koleksi yang berasal dari masa peradaban kebudayaan Cina di Tanah Air. Sedangkan sisanya yang 60% merupakan koleksi dari berbagai peradaban budaya bangsa Indonesia.
“Saya akui, jika sebagian besar koleksi museum berasal dari peradaban budaya Cina. Namun sayang koleksi tersebut belum banyak diketahui oleh masyarakat,” ungkap Kepala Balai Museum Sri Baduga Maharaja Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jabar, Drs. Deddy Warmana yang ditemui “GM”, sebelum rapat intern di Kantor Disbudpar Jabar, Jln. L.L.R.E. Martadinata Bandung, Senin (28/5).
Koleksi sisa dari peradaban Cina ini, antara lain gerabah, keramik, alat perhiasan, mebeler, dan alat rumah tangga. Bahkan, kata Deddy, replika alat tranportasi berupa bendi dan kereta kencana merupakan sisa peradaban bangsa Cina ketika hidup di Tanah Pasundan.
“Sebelumnya, kita hanya mengetahui jika kedua alat transportasi tersebut berasal dari Tanah Pasundan. Tetapi setelah dibaca literaturnya, kedua alat transportasi tersebut awalnya berasal dari bangsa Cina yang dimodifikasi dan ditransformasi oleh suku Sunda,” paparnya.
Deddy menyebutkan, seluruh koleksi dari Museum Sri Baduga ini, selain dari hasil perburuan di sejumlah daerah di Jabar, juga merupakan hasil dari sumbangan masyarakat dan pembelian, termasuk koleksi peradaban bangsa Cina. Namun, katanya, sebagian besar koleksi yang ada merupakan hasil perburuan dan sumbangan dari masyarakat. “Sedangkan koleksi dari hasil pembelian, jumlahnya sangat sedikit,” tambahnya.
Pekan tionghoa
Untuk memperkenalkan koleksi dari peradaban bangsa Cina ini, menurut Deddy, akan diselenggarakan pekan tionghoa di Museum Sri Baduga. Kegiatan ini, kata Deddy, selain untuk memperkenalkan budaya tionghoa (Cina) kepada masyarakat, juga sebagai penghargaan pihak museum kepada komunitas tionghoa yang telah menyumbangkan benda-benda pusaka ke museum.
“Masyarakat komunitas tionghoa banyak menyumbangkan benda-benda pusaka dan barang berharga milik nenek moyangnya untuk menjadi koleksi museum,” ungkapnya.
Pekan tionghoa ini, lanjut Deddy, untuk menyambut dan mengisi masa liburan sekolah kenaikan kelas. “Kami ingin memberikan suatu nuansa yang lain kepada para pengunjung (siswa, red) sekaligus pembelajaran,” tambahnya.
Dia menyebutkan, animo kalangan siswa terhadap Museum Sri Baduga sangat tinggi dibandingkan masyarakat umum lainnya. Hampir setiap hari, selalu ada kunjungan dari kalangan siswa yang jumlahnya lebih dari 500 orang.
“Untuk itu, saya menargetkan kunjungan masyarakat dan kalangan siswa ke museum ini antara 5.000 sampai 10.000 orang,” katanya. (B.81)**
15 Juni 2007 pukul 9:48 pm |
sangat menarik fakta dari peradaban sejarah masa lalu dari bagian kehidupan bangsa Indonesia. apapun sumber dan isi dari yang membentuk kebudayaan, karakter suatu bangsa adalah tertuju juga darimana kontribusi masa lalu sejarahnya berasal.
elemen dan komponen sejarah memang mulai hendaknya di buka dan diperkenalkan kepada masyarakat dari berbagai lapisan dan golongan.
agar semakin membuka cakrawala dan khazanah wawasan bagi setiap rakyat Indonesia agar semakin mencintai dan menyanyangi negerinya, apapun kondisi dan asalnya yang berbeda-beda.
20 Juli 2007 pukul 10:18 am |
sudah semesti sejarah cina dipasudan khususnya kuningan di ketahui dan dipelajari karena dalam sejarahnya adipati kuningan sendiri memiliki darah tionghoa(cina) dari ibunya jadi akulturasi dan asimilasi kebudayaan cukup lama sudah terjadi di tanah pasundan dan mungkin merupakan salah satu perkembangan bagi peradaban kita khususnya di tanah pasundan(kuningan).
Dan kalau saya melihat orang2 kuningan yang saya kenal termasuk cem-cem-an saya mereka itu punya kulit putih dan mata yang agak sipit dan setelah saya baca sejarah kota kuningan, yang pertama kali keluar dari mulut saya oooooh pantesan (tau maksudnya kan)
11 Nopémber 2007 pukul 5:26 am |
dimana saya dapat menemukan data lengkap tentang mainan tradisional jawa barat secara lengkap, termasuk naskah2 kuno tentangnya…………(ini untuk data TA saya mengenai ”permainan tradisional nusantara”, terimakasih
24 April 2008 pukul 10:58 pm |
Terimakasih, utk datanya yaaa… Saya memang sedang memerlukannya
14 Juli 2008 pukul 2:22 am |
ti baheula koleksi museum sri baduga teu nambah2. malah aya anu berkurang. see: http://isal.wordpress.com/2008/07/06/berkunjung-ke-museum-jawa-barat-sri-baduga/